131 Anak Bangsa Tewas Sia-sia Kena Gas Air Mata Polisi, Siapa yang Tanggung Jawab?

KALIMANTANLIVE.COM – Peristiwa memilukan datang dari sepakbola tanah air akibat pecahnya kerusuhan seusai laga Arema FC vs Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan Malang, Jawa Timur.

Sebanyak 131 anak bangsa tewas sia-sia dalam kerusuhan sepakbola paling banyak memakan korban jiwa itu

Bahkan, PT Liga Indonesia Baru (LIB) sebagai operator kompetisi Liga 1 2022/2023 akhirnya mengambil keputusan tegas untuk menghentikan gelaran liga 1 selama sepekan.

# Baca Juga :Korban Tewas Jadi 131 Orang, Ini Dalih Polisi Gunakan Gas Air Mata di Stadion Kanjuruhan Malang

# Baca Juga :Dikawal Polisi, Pemimpin Partai Garis Keras Swedia Bakar Alquran, Kerusuhan Pecah di Berbagai Tempat

# Baca Juga :VIRAL Kerusuhan di Blora, Polisi Ungkap Penyebab dari Minuman Keras hingga Keseruan Dangdutan

# Baca Juga :Rusuh Laga Arema FC vs Persebaya Liga 1 2022 di Stadion Kanjuruhan Malang, 127 Suporter Tewas

Keputusan itu diambil, buntut dari peristiwa pilu yang terjadi pada pekan ke-11 lanjutan Liga 1 2022/2023.

Peristiwa itu terjadi pada pertandingan Derbi Jawa Timur, yang mempertemukan Arema FC vs Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Sabtu (1/10/2022).

Tragedi Bangsa

Pengamat sepak bola nasional, Anton Sanjoyo, menilai kerusuhan di Stadion Kanjuruhan, Malang, layak menjadi tragedi bangsa setelah mengakibatkan ratusan korban jiwa.

Kerusuhan di Stadion Kanjuruhan, Malang, terjadi setelah pertandingan Liga 1 antara Arema FC dan Persebaya Surabaya rampung digelar pada Sabtu (1/10/2022) malam WIB.

Setelah laga Arema FC vs Persebaya rampung, sejumlah oknum suporter tuan rumah yang kecewa terhadap kekalahan timnya dilaporkan turun ke lapangan hingga menyebabkan kerusuhan.

Gelombang suporter Arema FC yang masuk ke lapangan sejatinya sudah berusaha dihalau oleh jajaran keamanan.

Namun, gelombang suporter yang masuk ke lapangan terus mengalir sehingga pihak kepolisian bertindak dengan menembakkan gas air mata.

Nahasnya, asap gas air mata yang dilontarkan mengarah ke tribune dan mengepul di sisi selatan.

Asap tersebut disinyalir membuat suporter langsung berlarian ke pintu keluar secara berdesakan sehingga beberapa di antaranya mengalami sesak napas dan pingsan, bahkan jatuh korban jiwa.

Berdasarkan informasi dari Dinas Kesehatan yang diterima Kompas.com pada Minggu (2/10/2022) sore WIB, jumlah korban meninggal dunia dalam tragedi kerusuhan di Stadion Kanjuruhan mencapai 131 orang.

Hal itu diungkapkan oleh Wakil Gubernur Jatim Emil Dardak berdasarkan data dari Dinkes Kabupaten Malang dan Dinkes Kota Malang walau dirinya menekankan bahwa data juga fluktuatif.

Ini menjadi salah satu tragedi sepak bola dengan jumlah korban jiwa terbanyak, tak hanya di Indonesia melainkan dunia.

Pengamat sepak bola nasional, Anton Sanjoyo, kemudian menyebut kerusuhan di Stadion Kanjuruhan layak disebut sebagai tragedi bangsa.

“Ini tragedi sepak bola indonesia, yang mungkin bukan cuma buat sepak bola, tetapi tragedi bangsa, karena kita ini kan sekarang nomor dua dari sisi jumlah korban dalam sejarah sepak bola (sebelum penurunan angka korban berdasarkan Dinkes),” kata Anton Sanjoyo kepada Kompas.com, Minggu (2/10/2022) sore WIB.