Gate 13 Seperti Kuburan Massal, Mayat Bertumpuk-tumpuk, Eko Minta Tolong TNI Malah Mau Dipukul

MALANG, KALIMANTANLIVE.COM – Banyak cerita tragis yang dialami sporter saat tragedi Kanjuruhan usai laga Arema Vs Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur pada Sabtu (1/10/2022).

Seperti yang dialami seorang Aremania bernama Eko Prianto (39), bahkan saking mengerikannya yang ia lihat sampai pria ini tak sanggup menceritakannya

Bahkan, kata-kata dari mulut suporter Arema FC ini tiba-tiba terhenti saat bercerita tentang Tragedi Kemanusiaan Kanjuruhan, Malang.

# Baca Juga :Solidaritas Korban Tragedi Kanjuruhan Malang, Suporter Barito Putera Gelar Doa Bersama

# Baca Juga :Usai Copot Kapolres Malang, Kapolri Copot Juga 9 Anggota Polri Lainnya Buntut Tragedi Kanjuruhan

# Baca Juga :Tragedi Kanjuruhan, Wakil Ketua Komisi III DPR RI Pangeran Khairul Saleh: PT LIB Bertanggung Jawab!

# Baca Juga :Tim Pencari Fakta Pengusutan Tragedi Stadion Kanjuruhan, Mahfud MD: Target Selesai 2-3 Pekan

Eko mulai mengusap matanya yang basah. Dengan terisak dia mengaku tak kuat menceritakan kejadian memilukan yang ada di depan matanya pada Sabtu (1/10) malam lalu.

Eko adalah salah satu dari sekian ribu suporter Arema yang menjadi saksi mengerikannya tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang, pasca laga Arema FC vs Persebaya Surabaya.

Eko mengatakan malam itu dia sengaja tak masuk ke stadion, meski tiket sudah di tangannya. Dia lebih memilih menemani kawannya yang tak punya tiket.

“Tanggal 1 Oktober, saya punya tiket, tapi saya tidak masuk. Saya ada di luar, saya dan teman saya cuma keliling di luar stadion,” kata Eko kepada CNNIndonesia.com di Malang, Senin (3/10).

Eko kemudian berkeliling untuk mengamati kondisi. Ia melihat banyak sekali aparat berjaga-jaga di sekitar Stadion Kanjuruhan.

Saat itu kondisi masih aman bahkan sampai peluit panjang akhir babak kedua dibunyikan. Namun tak berapa lama, Eko mengaku mendengar suara letupan gas air mata dari arah dalam.

“Setelah peluit dibunyikan masih keadaan kondusif. Saya berpikir, alhamdulillah meskipun kalah Aremania mereka sudah dewasa. Tapi beberapa menit kemudian ada suara seperti tembakan beberapa kali,” ujarnya.

Ia pun mendekat ke gerbang stadion, mencari tahu apa yang sedang terjadi. Ternyata yang ia dapati adalah gedoran dari arah dalam dilanjutkan teriak-teriakan minta tolong.

“Saya berada dekat gate 10, di situ pertama kali saya dengar ada suara gedor-gedor pintu, suara minta tolong, suara jeritan,” ucapnya.

Ia kemudian melihat seorang perempuan sudah tak sadarkan diri. Eko dan kawannya pun mengevakuasi perempuan tersebut ke tempat yang lebih aman.

“Pertama kali saya lihat ada perempuan sudah lemas, pingsan. Sama rekan-rekan ditolong. Setelah itu satu, dua, tiga, jumlah korban terus bertambah. Saya menolong ada lima orang,” kata dia.

Eko kemudian melihat hal yang lebih parah di gate 13 dan 14. Di sana dia menyaksikan sendiri banyak perempuan dan anak-anak yang tergeletak. Posisinya bertumpukan.

Dia mencoba membuka paksa pintu gerbang gate 13, dengan segala cara. Tapi upayanya itu tak berhasil karena pintu hanya terbuka sebagian.

Di tengah cerita, Eko kemudian tak bisa meneruskan perkataannya. Tangisannya pecah, dia hanya bisa tertunduk.

“Di gate 13 di situlah titik semacam kuburan massal teman-teman saya, Aremania. Aku enggak kuat mas,” ujar Eko sambil terisak.