Sedangkan Simpanan Berjangka, berhasil tumbuh sebesar 11,74% dimana per tanggal 30 September 2022 mencatatkan capaian sebesar Rp 5,14 triliun, lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp4,60 triliun (yoy).
Kedua, Efisiensi Biaya, yakni meminimalkan/mengoptimalkan pos-pos pengeluaran berdasarkan skala prioritas.
Biaya-biaya yang akan dikeluarkan disusun berdasarkan skala prioritas, yang memang penting dan berdampak dalam mendukung kinerja bank.
BACA JUGA:
Kembangkan Usaha UMKM di Banjarbaru, Bank Kalsel Salurkan Dana Pinjaman Rp87.4 Miliar
“Strategi yang kami bangun, berhasil memberikan dampak efektif dalam kinerja kami, dimana per 30 September 2022, Bank Kalsel mampu mencatatkan BOPO sebesar 73,76 persen dibanding tahun sebelumnya sebesar 77,15% (yoy).
Hal ini menunjukkan, Bank Kalsel telah berhasil menekan biaya-biaya yang timbul sesuai dengan skala prioritas yang dibutuhkan perusahaan.
Imbas dari langkah ini, per 30 September 2022 Bank Kalsel berhasil mencatatkan Laba sebesar Rp 317,58 miliar lebih tinggi dibandingkan perolehan pada tahun sebelumnya sebesar Rp 286,92 miliar (yoy) atau tumbuh sebesar 10,68 persen,” jelas Hanawijaya.
Ketiga, Menjaga Kualitas Kredit yang berkualitas baik dan mengoptimalkan penagihan.
Hal ini penting dilakukan dalam rangka memastikan kinerja kredit Bank Kalsel selalu berada dalam kondisi comply.
“Untuk kredit dan pembiayaan, Bank Kalsel mampu mencatatkan sebesar Rp12,20 triliun di posisi 30 September 2022, dengan kontribusi Kredit Produktif sebesar Rp5,75 triliun atau 47,14 persen dan Kredit Konsumtif sebesar Rp6,44 triliun atau 52,85 persen. Catatan tersebut meningkat 12,53 persen, dibandingkan pada tahun sebelumnya sebesar Rp10.84 triliun (yoy).







