Sebagian masyarakat Banjar, lanjut Hajriansyah, meyakini bahwa wafak sudah ada sejak awal kedatangan Islam di Tanah Banjar. Syekh Arsyad dianggap sebagai salah seorang yang mempelajari ilmu ini dan mewariskannya kepada murid dan keturunan.
Dia menyebutkan, wafak juga digunakan pada masa Perang Banjar sebagai ikhtiar perlindungan diri dan merupakan bagian dari kesaktian. Hal ini bisa dibuktikandengan tinggalan yang ada pada koleksi Museum Wasaka, yang sebagian besarnya berisi benda-benda peninggalan Perang Banjar berupa baju singlet yang berajah, baju rompi berajah, laung (ikat kepala), camati, batsal, jimat kalung, bendera berajah, surbah berajah, Alquran kecil, peluru pitunang, picis, picis mimang, pancar merah dan sebagaimanya.
BACA JUGA :
Naik Kelotok Wisata Susur Sungai, Wali Kota Banjarmasin Ibnu Sina Serasa di Luar Negeri
Sementara itu Kasi Cagar Budaya dan Permuseuman dari Disdikbud Kalsel Arry Risfansyah seminar digelar dalam rangka memperingati Hari Museum Nasional yang jatuh pada 12 Oktober, dengan tema Museum sebagai Inspirasi Bangsa.
“Selama ini museum ditutup selama pandemi. Makanya diadakan rangkaian kegiatan supaya masyarakat umum dan kalangan pelajar tahu museum di Kalsel sudah buka kembali, khususnya Museum Wasaka, Museum Lambung Mangkurat dan Museum Kandangan,” katanya.
Arry mengatakan, seminar menyesuaikan dengan tema berkaitan dengan wafak dan mandau. “Jadi kita ada kajian tentang wafak dan mandau khasnya Kalimantan Selatan. Di mana corak wafak khas Kalsel dan bagaimana mandau yang ada di Kalimantan Selatan dan tinjauan dari seni dan budayanya,” ujarnya.
Arry menambahkan, kegiatan ini juga bekerjasama dengan Museum Lambung Mangkurat, Museum Rakyat Kandangan, AAI Kalsel, dan Asosiasi Wasaka.
Kalimantanlive.com/eep
Editor : elpian







