SURABAYA, KALIMANTANLIVE.COM – Ada dugaan karena keluarga mendapat intimidasi, autopsi dua jenazah korban Tragedi Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur mendadak dibatalkan.
Padahal proses autopsi semestinya dilakukan Dokkes Polda Jatim besok, Kamis (20/10/2022).
Menurut Kapolda Jatim, Irjen Toni Harmanto, pihak keluarga korban belum menghendaki autopsi dilakukan.
# Baca Juga :KENGERIAN Tragedi Kanjuruhan Diungkap TGIPF, Mahfud MD: Lebih Mengerikan dari Semprot Mati!
# Baca Juga :Ada Apa? Tenaga Medis dan Pelajar Kena Pukul Oknum Aparat di Tragedi Kanjuruhan Minta Perlindungan LPSK
# Baca Juga :Penjual Dawet Gadungan saat Tragedi Kanjuruhan Bekas Pengurus PSI, Suprapti Fauzi Bersimpuh Minta Maaf
# Baca Juga :12 Hari Tragedi Kanjuruhan, Korban Bertambah, Helen Prisela Meninggal Selasa 11 Oktober 2022
“Bagaimanapun untuk pelaksanaan autopsi kita salah satunya meminta persetujuan keluarga, dan hasil info yg saya peroleh hingga saat ini keluarga sementara belum menghendaki untuk dilakukan autopsi,” kata Toni di RSUD Saiful Anwar, Rabu (19/10).
Pembatalan ini terbilang mendadak sebab Kabid Dokkes Polda Jatim, Kombes Pol dr Erwinn Zainul Hakim sebelumnya sudah mengatakan ada dua jenazah korban Tragedi Kanjuruhan, yang keluarganya telah mengajukan permohonan proses autopsi.
“Kami dapat informasi, dapat perintah, memang ada dua pihak keluarga yang sudah sepakat setuju melaksanakan autopsi,” kata Erwinn, di Mapolres Malang, Kamis (13/10/2022).
Erwinn menyebut proses autopsi tersebut akan melibatkan dokter-dokter dari Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia (PDFI).
“Kami bekerja sama dengan PDFI pelaksanaannya adalah dokter-dokter yang ditunjuk oleh perstauan dokter forensik,” ucapnya.
Autopsi nantinya akan dilakukan dengan cara ekshumasi. Prosesnya yakni dengan penggalian makam korban, dan pemeriksaan langsung dilakukan di tempat.
“Proses dilakukan dengan ekshumasi, jenazah di tempat langsung dilakukan pemeriksaan,” katanya.
Rumah Korban Didatangi Banyak Polisi
Pendamping Hukum Tim Gabungan Aremania Andy Irfan menyebut Keluarga korban Tragedi Kanjuruhan yang mengajukan permohonan autopsi mengaku mengalami intimidasi.
Sekretaris Jenderal Federasi KontraS itu menyebut keluarga mengaku diminta mencabut permohonan autopsi.
Andy mengatakan mulanya seorang anggota keluarga korban sudah bersedia agar jenazah dua anaknya yang meninggal di Kanjuruhan diautopsi.







