Dr Dian Masita Dewi : Eco Enzyme, Alternatif Turunkan Deman Tanpa Obat

KALIMANTANLIVE.COM – KASUS gagal ginjal akut diketahui menimpa ratusan anak di Indonesia dalam beberapa waktu terakhir.

Kementerian Kesehatan RI pun mengimbau penyetopan segala obat berbentuk cair atau sirup menyusul adanya laporan pasien anak dengan gangguan gagal ginjal akut terdeteksi terpapar tiga zat kimia berbahaya yakni ethylene glycol (EG), diethylene glycol (DEG), dan ethylene glycol butyl ether (EGBE).

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan sudah ada 206 orang terdeteksi mengalami gangguan ginjal akut progresif atipikal atau dikenal dengan istilah penyakit gagal ginjal misterius di Indonesia (data dari 1 Januari – 18 Oktober 2022. Dari jumlah tersebut, 99 orang atau 48 persen dinyatakan meninggal dunia.

BACA JUGA:
Pusat Study ULM Buktikan Eco Enzyme Ampuh Atasi Serangan Virus Tungro pada Padi di Beruntung Baru

BACA JUGA :
Diolesi Eco Enzyme, Cacar Monyet di Wajah dan Tubuh Penderita Berkurang Hanya dalam Sehari Semalam

Berdasarkan laporkan dari IDAI dari 20 provinsi di Indonesia. Mayoritas kasus terjadi pada anak usia 1-5 tahun.

Berikut sebaran ginjal akut progresif atipikal di 20 provinsi di Indonesia. DKI Jakarta 40 kasus, Jawa Barat 40 kasus, Jawa Timur 25 kasus, Sumatera Barat 21 kasus, Aceh 18 kasus Bali 17 kasus, Banten 11 kasus, Daerah Istimewa Yogyakarta 11 kasus, Sumatera Utara 8 kasus Kepulauan Riau 3 kasus, Jambi 3 kasus.

Sumatera Selatan 1 kasus, Jawa Tengah 1 kasus, NTT 1 kasus,Sulawesi Selatan 1 kasus, Papua 1 kasus, Papua Barat 1 kasus, Kalimantan Barat 1 kasus, Kalimantan Timur 1 kasus bahkan Kalimantan Selatan terdapat 1 kasus. Penderitanya mayoritas usia satu hingga lima tahun.

Sample Eco Enzyme yang telah disimpan lebih dari tiga bulan, Sabtu (19/2/2022) (Kalimantanlive.com/Ani)

Gejala klinis yang ditemukan pada pasien kasus gangguan ginjal akut umumnya meliputi infeksi saluran cerna, demam, ISPA, batuk pilek, dan muntah. Kemudian ada pula pasien yang tidak bisa buang air kecil atau air seni mengering (anuria), dan kurangnya kadar air seni (oliguria).

Ketua Pusat Study Eco Enzyme ULM Dr Dian Masita Dewi SE MM, menyarankan agar para ibu untuk lebih waspada, selektif dan terus mencari informasi terbaik untuk kesehatan keluarga khususnya konsumsi obat-obatan bagi anak.

Di masa pancaroba, lanjut dia, anak lebih rentan demam, batuk pilek, diare dan lain-lain.

“Saran saya jika anak kita dalam kondisi sehat, para ibu wajib menjaga atau mulai menerapkan pola hidup sehat misalnya dengan menjaga kualitas dan kebersihan makanan, meningkatkan kebersihan lingkungan, menjaga kebersihan dan kesehatan anak. Intinya lebih baik mencegah daripada mengobati,” katanya.