KALIMANTANLIVE.COM – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem untuk besok Minggu (6/11/2022).
Menurut situs resmi BMKG, 32 wilayah berpotensi hujan lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang.
Untuk wilayah Kalimantan Selatan, BMKG menulis Peringatan Dini cuaca sebagai berikut: “Waspada potensi hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang antara siang dan sore hari di wilayah Kota/Kabupaten Banjarmasin, Banjarbaru, Banjar, Kotabaru, Tanah Bumbu, Balangan, Hulu Sungai Utara, Hulu Sungai Tengah, dan wilayah sekitarnya”.
# Baca Juga :Prakiraan Cuaca 33 Kota di Indonesia Sabtu 5 November 2022, BMKG: Banjarmasin & Banjarbaru Hujan Ringan
# Baca Juga :Peringatan Dini Cuaca 4 November 2022, BMKG: 33 Wilayah Berpotensi Cuaca Ekstrem, Banjarmasin Hujan
# Baca Juga :Prakiraan Cuaca 32 Kota di Indonesia Kamis 3 Nopember 2022, BMKG: Banjarmasin & Banjarbaru Hujan Ringan
# Baca Juga :Prakiraan Cuaca 33 Kota di Indonesia Rabu 2 November 2022, BMKG: Kotabaru & Tanah Bumbu Hujan Petir
Kota Banjarbaru diprediksi pada pagi cerah berawan, siangnya dilanda hujan petir, sedang malam hingga dini hari berawan. Sementara suhu udara berkisar antara 23 – 33 derajat celsius dengan kelembapan 50 hingga 95 persen.
32 wilayah yang berpotensi hujan lebat dapat disertai peteir dan angin kencang disebutkan BMKG, di antaranya DKI Jakarta, Jawa Barat, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Riau, Bengkulu, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTT, NTB, Kalimantan Tengah, Gorontalo, Sulawesi Tenggara hingga Papua.
BMKG memperbarui informasi peringatan dini cuaca ekstrem pada hari ini, Sabtu (5/11/2022) pukul 13.12 WIB.
BMKG menjelaskan, Sirkulasi Siklonik terpantau di perairan barat laut Aceh, di Bangka Belitung, di perairan barat Bengkulu.
Kemudian di Maluku dan di Samudera Pasifik sebelah timur Filipina yang membentuk daerah perlambatan kecepatan angin (konvergensi) memanjang dari Sumatera Utara hingga Aceh.
Terdapat juga di Semenanjung Malaysia, di Bengkulu, di Kalimantan Barat, dari Jawa Timur hingga Jawa Barat, di Maluku, dan di Papua Barat.
Daerah konvergensi lainnya juga terpantau memanjang di Selat Karimata, dari NTT hingga NTB, di Kalimantan Selatan, di Kalimantan Tengah, di utara Kalimantan Barat.
Berlanjut di Kalimantan Utara, dari Kalimantan Timur hingga Sulawesi Tengah, di Sulawesi bag tengah dan dari Papua Barat hingga Papua.
Serta daerah pertemuan angin (konfluensi) di perairan utara Aceh, di perairan barat daya Banten, di Selat Karimata dan di Maluku Utara.
Kondisi tersebut mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar wilayah sirkulasi siklonik dan di sepanjang daerah konvergensi/konfluensi tersebut.







