Di HSU Ditemukan 200 Ekor Itik Peking Teridentifikasi Flu Burung

AMUNTAI, KALIMANTANLIVE.COM – Sebanyak 200 ekor itik peking di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Kalimantan Selatan positif terinfeksi Flu Burung atau H5N1.

Hal tersebut disampaikan langsung oleh Kabid Keswan dan Kesmavet Dinas Pertanian HSU, I Gusti Putu Susila.

I Gusti Putu Susila mengatakan pengambilan sampel dilakukan setelah peternak melaporkan itik miliknya mengalami sakit dengan gejala diantaranya leher terpuntir, mata keruh dan menurun jumlah produksi telur.

# Baca Juga :Waspada Wabah Flu Burung! Gubernur Kalsel Minta Disbunnak Awasi Masuknya Unggas

# Baca Juga :Antisipasi Mewabahnya DBD, Dinkes Kalsel Kirimkan SE kee Kabupaten/Kota

# Baca Juga :80 Anak di Zimbabwe Tewas, Gegara Wabah Campak Menyebar Sejak April 2022

# Baca Juga :Corona Mewabah Lagi, Pasien Covid-19 di Tanah Laut Terdata 52 Orang

“Pengambilan sampel kami lakukan pada 13 Januari, hasilnya kami terima dari Balai Veteriner Banjarbaru pada 30 Januari ternyata positif flu burung,” ujarnya, Selasa (28/2/2023) kemarin.

Sebelumnya petugas dari Bidang Keswan dan Kesmavet Distan HSU melakukan surveilans di Pasar Itik bersama Tim dari Balai Veteriner Banjarbaru begitu kasus Flu Burung mulai ditemukan di Kalsel.

Kemudian ada peternak itik di pasar tersebut yang melaporkan ternaknya sakit dengan gejala yang mengarah pada Susfek Flu Burung. Secepatnya tim melakukan pengambilan sampel di lokasi peternakan di Desa Pangkalan Sari Kecamatan Sungai Pandan.

Ternak unggas yang sakit kemudian di pisahkan kandangnya dari itik yang masih sehat (karantina) minimal 14 hari, beberapa itik yang masih muda (usia dibawah dua bulan) ada yang mati akibat terjangkit virus H5N1.

Petugas kemudian melakukan penyemprotan kandang, pemberian vitamin, pengobatan dan vaksinasi. Kepada peternak lain juga segera dilakukan kegiatan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) agar meningkatkan kondisi ternak dan mengurangi stres akibat cuaca ekstrim dan pemberian vaksinasi kepada unggas yang sehat.

Distan HSU memberikan bantuan vitamin, vaksin dan bahan kimia untuk penyemprotan kandang secara gratis kepada peternak.

Putu menduga terjadinya penyebaran virus H2NI di Wilayah Kabupaten HSU disebabkan penularan dari unggas luar seperti Burung Belibis dan lainnya.

“Karena biasanya itik sebelum bertelur di lepas ke kawasan rawa untuk mencari makan sendiri guna mengurangi konsumsi pakan buatan, sehingga kemungkinan terjadi kontak dengan burung liar termasuk belibis yang sangat tinggi,” terang Putu.

Putu menghimbau kepada masyarakat, khususnya peternak unggas agar segera melaporkan jika ada ternak sakit ke Dinas Pertanian bidang Keswan dan Kesmavet agar secepatnya dilakukan tindakan pencegahan penularan

Diakui Putu, peternak kadang tidak melapor jika menjual ternak, pasalnya petugas peternakan akan memeriksa secara fisik dan melakukan Rapid Test AI/Flu Burung untuk memastikan ternak yang diperjualbelikan adalah ternak yang sehat.

Peternak hanya melapor jika konsumen mensyaratkan Sertifikat Veteriner untuk ternak unggas yang dijual guna menjamin kesehatan unggas dan bebas dari penyakit.

Apa Itu Virus Flu Burung H2N1

Menurut WikipediA, H5N1 adalah salah satu subtipe virus influenza A yang menyebabkan penyakit flu burung. Virus influenza A memiliki beberapa protein pada permukaannya, di antaranya protein hemaglutinin (disingkat H atau HA) serta protein neuraminidase (disingkat NA atau N). Kombinasi jenis protein H dan protein N akan menentukan sifat virus dan penamaan subtipe virus influenza.

Virus H5N1 menimbulkan penyakit pada banyak spesies vertebrata, termasuk manusia, dan berpeluang menjadi pandemi influenza. Para ahli mengkhawatirkan bahwa H5N1 dapat bermutasi menjadi bentuk yang dapat menular dengan mudah dari manusia ke manusia, meskipun sampai sekarang belum ada kejadian kuat yang mendukung kekhawatiran itu. Mutasi seperti itu pernah terjadi ketika virus H2N2 berevolusi menjadi strain flu Hong Kong H3N2.

Editor : NMD

Sumber : Kalimantanlive.com/berbagai sumber