Setelah Sahur, Apa Boleh Langsung Tidur? Ini Penjelasan Ahlinya

KALIMANTANLIVE.COM – Sahur menjadi rutinitas penting bagi Muslim yang akan menjalani ibadah puasa Ramadan, mulai terbit fajar hingga Matahari terbenam.

Namun, setelah makan sahur kebanyakan umat Islam langsung tidur karena tidak mampu menahan kantuk.
Pada saat bulan Ramadan, siklus tidur masyarakat khususnya umat Muslim tentu berbeda dengan bulan-bulan biasanya.

Saat berpuasa, umat Muslim dianjurkan untuk bangun lebih awal untuk melakukan sahur. Karena siklus tidur yang berubah, banyak masyarakat yang mengantuk dan memilih tidur setelah menyelesaikan sahur.

# Baca Juga :Semarakan Ramadan 1444 H, Dispersip Kalsel Bakal Hadirkan Pendakwah Salim Akhukum Fillah

# Baca Juga :Begini Doa Buka Puasa Ramadan Sesuai Ajaran Rasulullah

# Baca Juga :Baru Hari Ini Muslim di India Mulai Berpuasa Ramadan 1444 H, Begini Penjelasannya

# Baca Juga :FAKTA Pasar Wadai Ramadan 1444 H di Siring 0 Km, Dibuka Gubernur Kalsel hingga 100% Gratis

Bahaya langsung tidur setelah sahur

Ahli penyakit dalam dan Chairman Junior Doctor Network (JDN) Indonesia, dr Andi Khomeini Takdir mengatakan, setelah makan idealnya beraktivitas terlebih dahulu.

Menurut dia, aktivitas selama beberapa saat bertujuan agar terjadi pembakaran dalam tubuh, sehingga makanan tidak langsung menjadi lemak.

“Agar terjadi pembakaran dan makanan yang kita makan itu tidak disimpan sebagai deposit lemak,” ungkapnya, saat dihubungi Kompas.com, Jumat (24/3/2023).

Bukan hanya itu, Andi menjelaskan, perubahan posisi dari semula duduk menjadi berbaring secara tiba-tiba juga akan memengaruhi proses pencernaan dalam lambung.

Akibatnya, meningkatkan risiko gangguan proses pencernaan di lambung dan memicu terjadinya refluks asam lambung atau kerap disebut penyakit refluks gastroesofagus (GERD).

“Karena ada perubahan posisi, nah itu bisa lebih besar terjadi risiko terjadinya GERD atau refluks,” kata dia.

Dia menambahkan, sebenarnya tidak ada patokan jarak ideal antara selesai makan dengan tidur.

Kendati demikian, proses pencernaan di lambung bervariasi, mulai dari setengah jam, satu jam, hingga dua jam.

“Sebaiknya kita memberikan space (ruang) minimal setengah jam, idealnya dua jam,” ujar Andi.

Boleh tidur langsung setelah sahur

Praktisi Kesehatan Tidur dan Konsultan Utama Snoring & Sleep Disorder Clinic RS Mitra Kemayoran dr Andreas Prasadja justru mendukung tidur setelah sahur.

Hal tersebut, menurut Andreas, lantaran saat Ramadan justru banyak yang kekurangan tidur. Kondisi ini amat berbahaya, terutama bagi pekerja yang harus berangkat dengan berkendara.

“Apalagi para pekerja yang harus berangkat berkendara, saya justru dorong dan sarankan kalau sempat, tidur dulu,” ujarnya, dihubungi Kompas.com secara terpisah, Jumat.

Andreas mengungkapkan, berkendara dalam kondisi mengantuk jauh lebih berbahaya daripada mabuk.

Itulah yang mendorongnya untuk mempersilakan tidur kembali setelah makan sahur.

Di sisi lain, dia mengatakan, langsung tidur setelah makan biasanya dikhawatirkan akan memicu dampak kesehatan berupa refluks asam lambung.

Saat terjadi refluks asam lambung, makanan yang telah masuk akan kembali naik ke kerongkongan dan keluar dari tubuh alias muntah.

“Tidak salah juga, tapi tidak sepenuhnya benar. Karena yang mengalami refluks itu orang-orang yang mendengkur, yang punya sleep apnea,” ungkap Andreas.

Sleep apnea merupakan gangguan tidur yang ditandai dengan mendengkur dan berhentinya napas secara berulang saat tidur. “Jadi saat saluran napasnya tertutup, gerakan napasnya tetap menyedot. Nah, isi lambung yang akhirnya kesedot,” jelasnya.

Namun, Andreas menuturkan bahwa pendengkur yang tidak kuat menahan kantuk juga tetap bisa tidur setelah menyantap sahur. Caranya, yakni dengan tidur dalam posisi setengah berbaring atau duduk, dan bukan berbaring. “Hanya untuk yang mendengkur, yang lain tak masalah (tidur berbaring setelah makan),” ungkapnya.

Dia melanjutkan, orang yang kerap mendengkur saat tidur tetap perlu diperiksa lebih lanjut. Sebab, gangguan napas ini bisa sangat berbahaya dan meningkatkan risiko sejumlah penyakit, seperti diabetes, penyakit jantung, stroke, depresi, disfungsi seksual, dan kematian.

“Yang perlu saya ingatkan lagi, tentang keselamatan, berkendara dalam kondisi mengantuk lebih berbahaya dibanding mabuk,” kata Andreas.

“Dan pendengkur punya risiko kecelakaan 15 kali lipat dibanding yang tidak mendengkur karena jadi ngantukan atau hipersomnia,” pungkasnya.

Editor : NMD
Sumber : Kalimantanlive.com/berbagai sumber