Gegara Coba-coba Posisi Seks Paling Ekstrem, Pria NTB Ini Alami Penis Patah dan Kaluar Darah

KALIMANTANLIVE.COM – Gegrara saat berhubungan seks dengan posisi yang terkenal berisiko tinggi atau disebut reverse cowgirl, Seorang pria asal Nusa Tenggara Barat (NTT) mengalami patah penis.

Akibat perbuatnnya itu, pria tersebut harus menjalani operasi darurat, membuat penisnya membengkak seperti terong.

Seperti diungkap sebuah studi yang meneliti kasus tersebut baru-baru ini dan diterbitkan dalam jurnal Urology Case Reports.

# Baca Juga :Laporkan Ketua KPU Hasyim Asy’ari soal Dugaan Pelecehan Seks, Wanita Emas Bawa Bukti Video

# Baca Juga :Resesi Seks Ancam Korea, Orang Malas Berhubungan Intim, Mungkinkah Menular ke Indonesia?

# Baca Juga :Guru Agama PNS di Jateng Cabuli 45 Siswi dan Perkosa 10 Lainnya, Disebut Pembina OSIS Hiperseksual

# Baca Juga :Kasus Pelecehan Seksual Marak di Kawasan Cendana Banjarmasin, Pelaku Pakai Helm Gerayangi Tubuh Korban

Insiden aneh tersebut terjadi ketika pria berusia 37 tahun yang tidak disebutkan namanya itu dilaporkan melakukan hubungan intim dengan posisi reverse cowgirl, di mana perempuan duduk di atas dengan berbalik arah membelakangi pria

Menurut dokter, posisi ini adalah posisi seks yang “paling berbahaya di dunia”, yang telah mengakibatkan terjadinya 50 persen kasus patah penis yang pernah ada.

Studi dari US National Center for Biotechnology Informationjuga sebelumnya menemukan bahwa seperti siku atau lutut, penis yang ereksi dapat berisiko patah jika bagian batangnya terlalu sering menekan ke bawah akibat dorongan yang diberikan perempuan.

Insiden itu bermula ketika pria tersebut tiba-tiba mendengar suara retakan keras yang diikuti dengan “rasa sakit yang tidak nyaman dan kehilangan ereksi seketika.” Darah pun mulai keluar dari ujung penisnya. Pria tersebut juga melaporkan tidak dapat buang air kecil.

Menyadari ada sesuatu yang tidak beres, pria yang ketakutan itu akhirnya memeriksakan kondisinya ke Rumah Sakit Umum Provinsi NTT.

Pada saat itu, penisnya telah membengkak dan berubah warna menjadi ungu tua dalam kondisi yang dikenal dalam istilah medis sebagai eggplant deformity atau deformitas terong, yang menurut penelitian adalah sebuah tanda dari patah penis.

Meskipun penis secara teknis tidak bertulang, kata “patah” digunakan untuk menggambarkan robekan pada tunika albuginea, jaringan yang memungkinkan penis membesar dan ereksi.

Pemeriksaan selanjutnya mengkonfirmasi bahwa pasien memang mengalami patah penis lebar dan dalam sementara jaringan penisnya juga pecah.

Pasien juga rupanya mengalami hematoma yang parah, yakni cedera pada dinding pembuluh darah, yang menyebabkan darah bocor ke jaringan di sekitarnya. Kondisi ini menyebabkan penderitanya buang air kecil dalam bentuk plasma.

Penulis studi mengatakan bahwa kondisi patah penis seperti itu terjadi ketika penis yang sedang ereksi tertekuk setelah menghantam perineum atau tulang kemaluan dengan kuat selama aktivitas seksual yang bergairah.

Apa itu posisi reverse cowgirl?

Reverse cowgirl merupakan posisi bercinta yang sangat berisiko karena penis pria dapat meleset keluar dan tertindih oleh tulang kemaluan pasangannya selama penetrasi terjadi.

Studi tersebut juga menyebut bahwa kondisi ini juga dapat disebabkan oleh masturbasi dan juga membalikkan badan di tempat tidur dengan sudut yang tidak tepat.

Untungnya, para ahli bedah berhasil memperbaiki penis yang retak itu tanpa insiden, setelah itu mereka menjahit uretra dan membalut lukanya. Mereka kemudian melakukan “tes ereksi buatan” untuk menentukan bahwa tidak ada kebocoran atau “kelengkungan penis” yang tidak normal.

Setelah itu, penis pria tersebut dilaporkan tidak mengalami komplikasi apa pun, meskipun masih membiru tiga hari kemudian setelah perban dilepas. Pria tersebut kemudian dipasangi kateter, tabung yang dimasukkan ke dalam kandung kemih untuk memperlancar sirkulasi urin, dan dipulangkan dari rumah sakit.

Pada janji temu lanjutan beberapa minggu kemudian, dokter menemukan bahwa penisnya “dalam kondisi yang baik” dan dia tidak memiliki masalah untuk mencapai ereksi atau buang air kecil.

Studi itu juga menyebutkan bahwa para dokter menggunakan kasus pria NTB ini untuk menjelaskan tentang tekuk penis yang sering menyerang pria berusia antara 30-50 tahun yang aktif secara seksual.

Editor : NMD
Sumber : Kalimantanlive.com/berbagai sumber