“Kasus tersebut sempat menurun, tapi menurun bukan berarti tidak ada kasus. Melainkan dikarenakan screening (pemeriksaan) yang dilakukan kurang maksimal dikarenakan terhambat PSBB pada saat itu,” jelas Bandiyah, Sabtu (10/6/23) pagi.
Meskipun terbilang menurun sejak 2 tahun terakhir, di tahun 2022 kasus HIV/AIDS kembali mengalami peningkatan. Bahkan masih sama, Kota Banjarmasin merupakan Kota yang tertinggi dalam kasus dan upaya penanganannya hingga saat ini.
“Kalau gender yang paling rentan kena penyakit ini adalah laki-laki, dan usia rata-rata produktif. Data yang tertinggi di Kalsel ada di Kota Banjarmasin karena jumlah penduduknya yang juga tertinggi,” katanya.
Bandiyah menyebut, untuk penanganan penyakit ini sendiri salah satunya fokus untuk melakukan screening. Biasanya sebelum itu, pihaknya terlebih dulu melakukan sosialisasi.







