JAKARTA, KALIMANTANLIVE.COM – Momen bersejarah peresmian jembatan lengkung bentang panjang (longspan) Lintas Rel Terpadu (LRT) Jabodebek di ruas Kuningan, Jakarta terjadi pada Senin 11 November 2019. Siapa sangka, karya yang sempat menyabet rekor MURI itu, ternyata salah desain.
Siapa yang mengungkap kasus salah desain pada proyek LRT Jabodebek itu? Dia adalah Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo.
Menurut Kartika Wirjoatmodjo, dalam proyek mercusuar itu tidak integrator sistem sehingga kurang koordinasi antara pihak terkait sampai ada kesalahan desain.
# Baca Juga :Usai Kecelakaan KA Brantas Vs Truk Trailer, Kemenhub Catat 3 Kecelakaan yang Libatkan Kereta dalam Sehari
# Baca Juga :288 Orang Tewas, Kecelakaan Kereta Api di Odisha India Jadi Tragedi Mematikan di Dunia
# Baca Juga :Kasat Narkoba Polres Jaktim Tewas Tertabrak Kereta Api di Jatinegara, Beru Bertugas 2 Pekan
# Baca Juga :Pemprov Kalsel dapat Tawaran dari Investor Dubai Bangun Kereta Api Gantung Senilai Rp15 Triliun
Salah satu kesalahan desain di rute LRT Jabodebek, yaitu jembatan lengkung bentang panjang (longspan) yang menghubungkan wilayah Gatot Soebroto dan Kuningan. Padahal longspan ini merupakan terpanjang di dunia dan mendapatkan penghargaan MURI.
Kartika Wirjoatmodjo yang buka-bukaan soal proyek LRT Jabodebek ini mengatakan, salah desain pada bagian jembatan rel lengkung hal ini membuat kecepatan kereta LRT Jabodebek melambat saat melewat tikungan tersebut.
“Karena apabila kecepatan LRT tidak melambat sebelum longspan maka berpotensi meningkatkan kecelakaan,” ungkap Kartika Wirjoatmodjo kepada media, Rabu (2/8/2023).
Tiko, sapaan akrab Kartika Wirjoatmodjo menyebut, kalau lihat longspan dari Gatot Subroto ke Kuningan kan ada jembatan besar, itu sebenarnya salah desain, karena dulu Adhi sudah bangun jembatannya, tapi dia enggak ngetes sudut kemiringan keretanya.
Dikatakan Tiko, lantaran salah desain, tingkungan tersebut kurang lebar sehingga kecepatannya melambat. Dia bilang, jika tingkungan jembatan itu digarap melebar maka kereta LRT Jabodebek bisa tetap melaju dengan kencang.
“Jadi sekarang kalau belok harus pelan sekali, karena harusnya itu lebih lebar tikungannya. Kalau tikungannya lebih lebar, dia bisa belok sambil speed up. Tapi karena tikungannya sekarang sudah terlanjur dibikin sempit, mau enggak mau keretanya harus jalan hanya 20 km per jam, pelan banget,” papar Tiko.
Koordinasi berantakan
Selain menyoroti salah desain pada longspan, Tiko juga mempermasalahkan koordinasi semua pihak yang terlibat selama proses konstruksi.
Mantan Dirut Bank Mandiri itu menuturkan, pada dasarnya ada enam komponen dalam proyek LRT Jabodebek.
Di antaranya prasarana yang digarap oleh PT Adhi Karya (Persero) Tbk, kereta oleh PT INKA (Persero), software development oleh Siemens, hingga persinyalan oleh PT Len Industri (Persero).
Namun, dari banyaknya komponen yang terlibat dalam proyek, tapi tidak ada integrator atau penghubung di dalamnya. Alhasil, setiap komponen bekerja masing-masing tanpa sistem integrator.
Hal ini menyebabkan banyak terjadi kesalahan koordinasi, salah satunya mengenai desain longspan yang tidak sesuai.
“Di semua proyek besar itu ada sistem integrator, tapi ini enggak ada. Jadi semua komponen proyek itu berjalan liar tanpa ada integrator di tengah,” ucapnya.









