Ikan Pembawa Bencana Mendadak Muncul, Warga Geger saat Lihat Terdampar di Pantai

KALIMANTANLIVE.COM – Makhluk laut dalam yang sangat besar yang dikenal sebagai ‘ikan gempa’ telah terdampar di pantai hingga membuat anak-anak dan warga lainnya terpana. Memiliki panjang 4 meter, oarfish ini sering dianggap sebagai ‘pertanda malapetaka’.

Ikan tersebut baru-baru ini ditemukan hidup-hidup oleh pengunjung pantai. Mereka kemudian berusaha mengembalikannya ke laut karena ikan tersebut tampak masih berjuang untuk bernapas melalui insangnya.

Tragisnya, makhluk yang diidentifikasi sebagai oarfish raksasa (Regalecus glesne) itu mengalah pada nasibnya di Pantai Cancas di Punta Sal, Provinsi Tumbes, Peru, akhir pekan lalu. Seorang penduduk setempat menceritakan kejadian itu kepada media.

# Baca Juga :NGERI! Nenek di Sulawesi Peluk Cucunya Ternyata Ular Piton Raksasa, Si Bocah Sudah Tewas Dililit

# Baca Juga :Penampakan Ikan Gabus Raksasa yang Berhasil Ditangkap Pemacing, Beratnya Mencapai 20 Kilogram

# Baca Juga :Asteroid Raksasa Bakal Tabrak Orbit Bumi, Ukurannya Dua Kali Big Ben di London

# Baca Juga :Ada 6 Batu Raksasa Ditemukan di Tanahlaut, Warga: Terlempar dari Atas Gunung Jajakan

Pengunjung pantai yang berusaha mengembalikannya ke laut ketika mereka melihatnya berjuang untuk bernapas melalui insangnya. Tragisnya, makhluk yang sering dianggap sebagai pertanda malapetaka itu lebih pilih mengalah pada nasibnya.

“Kami melihat itu terdampar di sini di pantai. Nelayan di sini tidak takut menyentuhnya dan berusaha mengembalikannya ke laut. Namun, itu ditakdirkan untuk mati,” ujar seorang warga yang dikutip Z News Service.

Gambar dan video ikan gempa terdampat langsung viral. Seperti diduga banyak netizen menghubungkan kemunculan oarfish dengan bencana dan gempa bumi yang akan datang.

Oarfish memang telah lama dikaitkan dengan prediksi gempa bumi dan kemalangan dalam mitologi Jepang. Keyakinan ini dihidupkan kembali pada tahun 2011 setelah gempa bumi dan tsunami Tohoku, bertepatan dengan beberapa oarfish yang terdampar di Jepang pada tahun-tahun sebelumnya.

Namun, Institut Geofisika Ekuador menyangkal mitos tersebut. Mereka menyatakan bahwa tidak ada bukti ilmiah yang mendukung gagasan bahwa oarfish memprediksi peristiwa seismik.

Raksasa laut dalam ini dapat mencapai panjang hingga 17 meter dan berat lebih dari 200 kilogram. Tubuh mereka yang tidak bersisik ditutupi lapisan pelindung keperakan berlendir yang disebut guanin, dan mereka memiliki sirip punggung menonjol yang memanjang dari mata hingga ekor.

Oarfish ditemukan di berbagai samudra dan biasanya menghuni kedalaman hingga 1.000 meter. Penampakan makhluk yang sulit dipahami ini jarang terjadi, sering terjadi saat mereka terdampar di pantai setelah badai atau saat terluka.

Ada di Indonesia

Dimuat dari The Guardian , akar mitos ikan oarfish berasal dari Jepang yang termuat dalam Shokoku Rijin Dana, kumpulan cerita misteri yang diterbitkan pada abad 18. Hal ini mengisahkan tentang ikan laut perairan dalam dan aktivitas sesimik atau gempa.

Dijelaskan bahwa ikan ini lebih dikenal dengan sebutan Ryugu no tsukai atau pembawa pesan dari istana Dewa Laut. Legenda ini mengungkapkan bahwa mereka terdampar di pantai sebelum gempa bumi bawah laut.

Karena mitos itu muncul sebuah pseudosains yang menyebut bahwa makhluk itu pindah ke perairan yang lebih dangkal. Hal ini karena mereka merasakan perubahan elektromagnetik yang disebabkan oleh gerakan tektonik yang terkait dengan patahan aktif.

“Ikan laut dalam hidup dekat dengan dasar laut dan lebih peka terhadap pergerakan lempeng daripada mereka yang hidup di permukaan,” ujar Kyoshi Wadatsumi, peneliti gempa bumi dari organisasi e-PISCO,

Keyakinan ini semakin menguat setelah gempa Fukushima 2011 dan tsunami yang menewaskan lebih 20 ribu orang. Setidaknya belasan ikan oarfish terdampar di pantai Jepang pada tahun sebelum bencana.

Hal ini juga terjadi di Indonesia pada tahun 2017 silam, di mana muncul ikan oarfish berukuran panjang 3,5 meter di Kabupaten Majene, Sulawesi Barat. Ketika itu kemunculannya dikaitkan dengan gempa Palu, Sigi, Donggala.