Menurut dia, pengamatan sebaiknya dilakukan di tempat yang jauh dari polusi cahaya.
Dikutip dari laporan BRIN, polusi udara adalah penggunaan cahaya buatan dengan intensitas tinggi. Polusi cahaya mengganggu pandangan ke alam semesta dan memengaruhi lingkungan, keamanan, konsumsi energi, dan kesehatan.
“Pilih tempat yang jauh dari polusi cahaya. Minimal tidak ada cahaya lampu di sekitar (tempat pengamatan) yang mengganggu,” lanjut Thomas.
Ia menambahkan, masyarakat yang ingin melihat hujan meteor harus mengarahkan pandangan ke arah langit sebelah timur laut sampai utara.
Pandangan pengamat ke arah langit juga harus bersih dari penghalang bangunan atau pohon.
“Hujan meteor tampak berupa meteor yang melintas sekitar 1-2 meteor per menit,” tandasnya.
Tidak perlu bantuan alat
Sebelumnya, Kepala Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Emanuel Sungging menyatakan, hujan meteor perseid akan terjadi pada 17 Juli-24 Agustus 2023.
Namun, puncak hujan meteor perseid baru akan terjadi di langit Indonesia pada 12-13 Agustus 2023.
“Iya (tanggal puncak 12-13 Agustus 2023). Biasanya, (hujan meteor) ada sepekan kurang lebih. Tanggal-tanggal tersebut biasanya pada puncaknya atau terbanyak-terbanyaknya,” ujarnya kepada Kompas.com, Kamis (10/8/2023).
Sungging mengatakan, hujan meteor merupakan fenomena yang sering terjadi di Indonesia. Tepatnya, setiap bulan sepanjang tahun.
Menurutnya, puncak hujan meteor perseid bisa disaksikan oleh seluruh masyarakat Indonesia tanpa memerlukan bantuan alat.
Hujan meteor perseid juga tidak akan berdampak bahaya bagi Bumi.
Editor : NMD
Sumber : Kalimantanlive.com/berbagai sumber










