Rumah Sakit di Gaza Dihantam Rudal Israel, 500 Orang Tewas Seketika, WHO Sebut Pelanggaran

JALUR GAZA,, KALIMANTANLIVE.COM – Setidaknya 500 orang tewas seketika dalam serangan sebuah Rumah Sakit Al-Ahli al-Arabi oleh Israel di Kota Gaza, jelas Kementerian Kesehatan Palestina.

Seorang juru bicara kementerian mengatakan dalam sebuah pernyataan, “Perkiraan awal menunjukkan bahwa antara 200 dan 300 orang tewas dalam pemboman yang menargetkan Rumah Sakit di kota Gaza.”

Kementerian kemudian merevisi angka tersebut menjadi setidaknya 500 seperti dilaporkan AP dan Reuters.

# Baca Juga :Jelang Balas Dendam Israel, Warga Gaza Tolak Perintah Evakuasi: “Lebih Baik Mati Daripada Pergi”

# Baca Juga :Israel Desak 1,1 Juta Warga Gaza Dievakuasi, Putin: Gaza Tanah Bersejarah Palestina

# Baca Juga :FAKTA Baru: Jurnalis Al Jazeera Shireen Abu Akleh Memang Jadi Target Tembakan Israel

# Baca Juga :Usai Bertingkah Nyeleneh saat Masuk Mekkah, Wartawan Israel Minta Maaf

Serangan rudal di tengah perang Hamas-Israel itu menghantam RS di Gaza pada Selasa (17/10/2023) kemarin.

Otoritas Gaza mengatakan serangan tersebut berasal dari Israel.

Namun, selang beberapa saat, Israel mengatakan sebuah roket Palestina telah menyebabkan ledakan tersebut.

Jumlah korban tewas dalam serangan di RS Gaza tersebut adalah yang tertinggi dari semua insiden di Gaza yang pernah dilaporkan setelah perang Hamas-Israel pecah pada 7 Oktober lalu.

Sebagaimana dikutip dari Reuters, Menteri Kesehatan di pemerintahan Gaza yang dikelola Hamas, Mai Alkaila, menuduh Israel melakukan “pembantaian” di RS Al-Ahli al-Arabi.

Serangan tersebut menewaskan ratusan orang dan terjadi selama kampanye pengeboman Israel selama 11 hari di Gaza.

Hamas mengatakan bahwa ledakan tersebut sebagian besar menewaskan para pengungsi.

Seorang juru bicara Militer Israel mengatakan analisis oleh sistem operasionalnya menunjukkan “rentetan roket musuh” yang ditujukan ke Israel melewati rumah sakit pada saat serangan terjadi dan menyalahkan kelompok Jihad Islam Palestina.

Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa bukan Militer Israel yang telah menyerang rumah sakit Gaza.

Jihad Islam Palestina sendiri telah membantah bahwa roket-roketnya terlibat dalam ledakan di rumah sakit tersebut, dan mengatakan bahwa mereka tidak memiliki aktivitas di dalam atau di sekitar Kota Gaza saat itu.

Jihad Islam sebelumnya dilaporkan telah ikut ambil bagian dalam serangan yang dipimpin Hamas ke Israel pada 7 Oktober dan, seperti Hamas, telah menembakkan sejumlah roket ke Israel.

Para pengungsi di Jalur Gaza yang melarikan diri dari pengeboman Israel telah berbondong-bondong pergi ke rumah sakit, mencari perlindungan di sekitar mereka dengan harapan mereka akan lebih aman.

Pada pekan lalu Israel memerintahkan semua orang yang tinggal di bagian utara Jalur Gaza, yang panjangnya hanya 45 km dan dihuni oleh 2,3 juta orang, untuk meninggalkan rumah mereka dan pergi ke selatan.

Namun, serangan udara telah menghantam target-target di seluruh daerah kantong tersebut dan meskipun ada ekspektasi akan adanya serangan darat dari Israel, beberapa orang yang mengungsi mulai kembali ke utara.

Kecaman Dunia

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengutuk serangan mematikan pada Selasa di sebuah rumah sakit di Gaza dan menuntut perlindungan segera bagi warga sipil dan layanan kesehatan di jalur tersebut.

“WHO mengutuk keras serangan terhadap Rumah Sakit Al Ahli Arab,” kata badan kesehatan PBB itu dalam sebuah pernyataan, dikutip dari AFP.

“Rumah sakit itu masih beroperasi, dengan pasien, petugas kesehatan dan perawat, serta pengungsi internal berlindung di sana. Laporan awal menunjukkan ratusan korban jiwa dan cedera,” jelas WHO.

Direktur kedaruratan WHO Michael Ryan menegaskan bahwa setiap serangan terhadap layanan kesehatan merupakan pelanggaran hukum internasional.

“Atribusi dan penyebabnya, mustahil bagi WHO untuk dapat menentukannya,” katanya dalam konferensi pers.

WHO mengatakan bahwa mereka sangat membutuhkan akses ke Gaza untuk mengirimkan bantuan dan pasokan medis, serta memperingatkan akan adanya krisis kemanusiaan jangka panjang.

Truk-truk bantuan Mesir telah menunggu di perbatasan menuju Gaza, namun tidak ada kesepakatan untuk mengizinkan mereka masuk.

Editor : NMD
Sumber : Kalimantanlive.com/berbagai sumber