Pada akhir tahun 2018, Fuad melihat peluang bisnis di industri kopi dan memutuskan untuk menjadi pemasok bahan baku kopi untuk cafe-cafe.
Meskipun sempat dihadapkan saat pandemi Covid-19 dan membuat usaha Kopi Datoe yang baru dirintisnya terguncang, Fuad berhasil melewati masa-masa sulit.
BACA JUGA:
Ingin Daya Saing UMKM Meningkat, Gubernur Kalsel Lakukan Pendampingan dan Akses Permodalan
Dia menemukan cara untuk terus berkembang dengan melakukan inovasi produk dan memanfatkan potensi media sosial untuk memperluas pemasaran bisnis UMKMnya.
Dukungan penuh dari DKUMPP Kabupaten Banjar, Bank Indonesia, dan Rumah BUMN Banjar melalui Bank BRI menjadi pilar utama kesuksesannya.
“Peminjaman KUR BRI tahun 2018 memberikan kami modal untuk pengembangan usaha, dan sekarang Kopi Datoe telah menjadi produsen kopi pertama dengan biji kopi asli Kalimantan. BRI membantu mempercepat pertumbuhan dan pengenalan brand kami,” cerita Fuad.
Omset usaha Kopi Datoe yang dimulai dengan modal awal Rp 500 ribu per hari, kini mencapai 50-100 kg atau sekitar 8 ribu pack perbulan, menghasilkan pendapatan sekitar Rp 15-20 juta perbulan.
Keunikan produk ini terletak pada penggunaan biji kopi asli Kalimantan, dengan varian rasa yang unik seperti Jahe, Pasak Bumi, Kopi Rempah, dan Original.







