Umat Islam Banua Berduka, Ulama Ternama Abah Guru Danau Berpulang, Murid Guru Ijai dan Guru Bangil

Profil Singkat

Seperti dikutip dalam tulisan Mujiburrahman, Abidin, & Rahmadi, 2012, Abah Guru Danau lahir pada tahun 1955 di Danau Panggang.

Anak kesayangan dari Haji Masuni dan ibunya bernama Hajjah Masjubah.

Beliau adalah anak ketiga dari delapan bersaudara, ayahnya dari Danau Panggang sedang ibunya bersuku Dayak Bakumpai dari Marabahan yang pindah ke Danau Panggang.

Dari garis ibunya, Guru Danau menjadi bagian dari zuriat Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.

Guru Danau memiliki nama lain saat beliau kecil yaitu Zarkasyi.

Oleh seorang habib yang bernama Habib Salim Mangkatip nama itu diubah menjadi Asmuni yang menurut Guru Danau nama Asmuni itu berarti berharga.

Guru Danau hidup di lingkungan keluarga yang sederhana dan taat beragama.

Orang tuanya dahulu bekerja sebagai buruh kapal dengan pendapatan yang pas-pasan.

Walau demikian, tidak menghalangi semangat orangtuanya untuk membiayai pendidikan anak mereka di sejumlah pesantren baik yang berada di Kalimantan Selatan maupun di Pulau Jawa.

Guru Danau termasuk beruntung, karena tidak banyak orang di daerahnya yang mampu dan memiliki kesempatan ke Pulau Jawa untuk belajar meski dalam waktu singkat.

Guru Danau menempuh pendidikan tingkat dasar di Madrasah Ibtidaiah Pesantren Mu‟alimin Danau Panggang (tamat tahun 1971) dan Madrasah Tsanawiyah Pesantren Mu‟alimin Danau Panggang (tamat tahun 1974).

Setelah itu dia meneruskan studinya di tingkat atas (aliyah/ulya) di Pesantren Darussalam Martapura (tamat tahun 1977).

Selama belajar di Martapura, selain di Pesantren Darussalam, Guru Danau juga belajar dengan sejumlah ulama (tuan guru) lainnya di Martapura, di antaranya adalah Muhammad Zaini bin Abdul Ghani atau Guru Ijai atau Abah Guru Sekumpul (wafat 2005) yang merupakan salah satu ulama kharismatik Kalsel.

Setelah tamat di pesantren Darussalam, Guru Danau sempat pulang ke kampung halamannya.

Tidak lama kemudian, pada tahun 1978, karena anjuran Guru Ijai dia kembali belajar di Pesantren Datuk Kalampaian, Bangil, Jawa Timur.