Di sini dia belajar dengan ulama kharismatik keturunan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, yaitu Kyai Haji Muhammad Syarwani Abdan (wafat 1989).
Sebelum ke Bangil, Guru Danau terlebih dahulu ke Wonosobo menemui para habib yang ada di sana dan mengambil tarikat Naqsyabandiyah dari salah seorang habib bersama dengan Habib Lutfi Pekalongan.
Setelah selesai belajar di Bangil, Guru Danau tidak segera pulang, beliau terus memperdalam pengetahuan agamanya dengan mengunjungi dan belajar secara singkat kepada sejumlah ulama.
Di antara ulama tempatnya belajar adalah Kyai Haji Abdul Hamid Pasuruan.
Kegiatan belajar singkat dengan sejumlah ulama di Jawa ini dilakukan oleh Guru Danau untuk mendapat berkah ilmu dengan bertemu dan belajar kepada mereka.
Hanya saja, studi Guru Danau di Pulau Jawa terutama di Bangil tidak berlangsung lama, hanya beberapa bulan.
Beliau kembali ke kampung halamannya untuk membuka pengajian.
Setelah berumah tangga dan memiliki anak, aktivitas dakwahnya tidak terganggu.
Malah sebaliknya, aktivitasnya semakin meningkat dan semakin aktif mengisi pengajian serta mengajar di pesantren.
Seiring dengan itu, namanya pun semakin dikenal dan jadwal ceramahnya juga semakin padat.
Di sela-sela kesibukannya itu, Guru Danau tidak lupa untuk tetap belajar.
Secara rutin dia tetap mengikuti pengajian Guru Ijai di Martapura baik ketika masih di Keraton maupun setelah pindah ke Sekumpul.
Guru Danau terus mengikuti pengajian Guru Ijai sampai sang guru meninggal dunia pada tahun 2005.(Kalimantanlive.com/m raihan)
editor : NMD







