Efek tornado berbeda dengan puting beliung, dimana tornado memiliki kekuatan angin lebih tinggi dan radius lebih luas, minimal mencapai 70 km/jam.
BRIN segera merekonstruksi dan investigasi tornado Rancaekek yang tercatat sebagai kejadian pertama di Indonesia.
“Kronologi foto-foto dan video dari masyarakat dan media sangat membantu periset dalam mendokumentasikan extreme event yg tercatat sebagai tornado pertama ini,” tandasnya.
Berdasarkan detik-detik terbentuknya pusaran angin yang terekam kamera netizen. Awalnya, angin membentuk putaran awan berukuran kecil. Dengan cepat, angin membentuk pusaran besar hingga mendarat dan menghantam permukiman di Rancaekek.
Sebelumnya, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Bandung, Teguh Rahayu, menjelaskan bahwa angin puting beliung muncul di Rancaekek dan Sumedang sebagai dampak pertumbuhan awan cumulonimbus, diikuti oleh hujan lebat dan angin kencang dengan durasi singkat dan skala lokal.
Kondisi suhu muka laut yang relatif hangat mendukung penambahan suplai uap air di wilayah tersebut. Sirkulasi siklonik di Samudera Hindia barat Pulau Sumatera juga terpantau, mengakibatkan pembentukan area netral poin, pertemuan, perlambatan angin (konvergensi), dan belokan angin (shearline) di sekitar wilayah Jawa Barat.
Editor : NMD
Sumber : Kalimantanlive.com/Fajarharapan.id










