Jemaah Masjid Aolia Sudah Lebaran Jumat, Kemenag DIY Mengaku Tak Bisa Memaksakan Aturan Pemerintah

YOYAKARTA, KALIMANTANLIVE.COM – Ratusan warga yang tergabung dalam Jemaah Masjid Aolia di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, merayakan Idul Fitri 1445 Hijriah pada Jumat (5/4/2024) kemarin. Perayaan Idul Fitri itu mengikuti keyakinan imam masjid jemaah Aolia, KH Ibnu Hajar Sholeh Pranolo atau akrab dipanggil Mbah Benu.

Pantauan Jumat pagi kemarin, Jemaah Masjid Aolia menggelar shalat Idul Fitri di sejumlah lokasi di Dusun Panggang III, Desa Giriharjo, Kecamatan Panggang, Gunungkidul.

# Baca Juga :Mau Mudik Lebaran Aman dan Nyaman? Ini Tips Mudah dari Kasatlantas Polres Tabalong

# Baca Juga :Polres Banjarbaru Siapkan Pasukan Amankan Mudik Lebaran 2024, Sekda: Jangan Paksakan Diri Mudik Naik Motor

# Baca Juga :Ternyata Tidak Semua WBP dan Anak Binaan di Kalsel Terima Remisi Khusus Lebaran, Harus Penuhi Syarat Ini

# Baca Juga :Ditinggal Mudik Lebaran, Kasat Reskrim Polresta Banjarmasin Imbau Masyarakat Pastikan Keadaan Rumah Aman

Salah satu lokasi untuk menggelar shalat Idul Fitri itu adalah sebuah masjid di Dusun Panggang III. Selain itu, warga Jamaah Aolia juga menggelar shalat Idul Fitri di rumah Mbah Benu.

Perayaan Idul Fitri oleh Jemaah Masjid Aolia ini lebih awal lima hari dari keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang menetapkan Idul Fitri jatuh pada 10 April 2024. Adapun pemerintah belum menetapkan tanggal Idul Fitri.

Sebelumnya, Jemaah Masjid Aolia memulai puasa Ramadhan pada 7 Maret 2024 atau lebih awal lima hari dari awal Ramadhan menurut keputusan pemerintah pada 12 Maret 2024.

Terpisah, Kepala Dusun Panggang III, Agung Setiawan menyebut di wilayahnya ada sekitar 190an KK dari total 244 KK yang tergabung dalam jemaah Masjid Aolia.

“Hubungan dengan masyarakat sekitar baik, kalau ada kegiatan di desa atau di wilayah sangat mendukung penuh mbah kyai, nggak pernah ada gesekan,” katanya.

Menurut Agung, kelompok Jamaah Masjid Aolia lahir di wilayahnya sudah sejak lama bahkan sejak sebelum dirinya lahir. Tapi dia tak merinci kapan tahunnya.

Sementara itu Mbah Benu menuturkan, seluruh Jamaah Masjid Aolia telah melaksanakan solat idulfitri Jumati. Meski tak hafal jumlahnya, ia mengklaim pengikutnya tersebar hingga Kalimantan, Sulawesi, Papua bahkan luar negeri.

Mbah Benu yang kini menginjak usia 82 tahun itu menjelaskan, penentuan 1 Syawal versi mereka didasarkan pada keyakinannya, di mana malam 30 Ramadan jatuh pada Kamis (4/4/2024).

 

Bagi Mbah Benu, Idulfitri tahun ini memiliki makna terus menjaga kerukunan, persatuan dan kesatuan sebagaimana ia sampaikan melalui khotbah Idulfitri tahun ini.

“Saling rukun, jaga kesatuan dan persatuan dengan siapa saja. Jangan mudah menyalahkan dan membenarkan orang,” pesan Mbah Benu.

Berdasarkan pantauan, pelaksanaan ibadah salat Idulfitri jemaah Masjid Aolia di Giriharjo bertempat di sejumlah titik.

Beberapa di antaranya yakni Masjid Aolia dan kediaman pimpinan jemaah Masjid Aolia Raden Ibnu Hajar Pranolo di Dusun Panggang III, Giriharjo.

Ratusan jemaah Masjid Aolia berbondong-bondong ke kedua lokasi itu sejak pukul 06.00 WIB. Gema takbir berkumandang hingga solat dimulai pukul 07.00 WIB.

Tahun lalu, jemaah Masjid Aolia juga melaksanakan salat Idulfitri lebih awal, yakni pada 20 April 2023. Sementara Lebaran versi pemerintah ditetapkan 21-22 April 2023.

Tidak Bisa Memaksakan

Kanwil Kementerian Agama Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melalui Kepala Bidang Urusan Agama Islam (Urais) Kantor Wilayah Kemenag DIY Jauhar Mustofa menuturkan, pihaknya telah berkomunikasi perihal Lebaran jemaah Masjid Aolia ini dengan Direktur Urais Kemenag RI.

Sama seperti ketika puasa Ramadan jemaah Aolia dimulai 7 Maret 2024 lalu, kata Jauhar, ia telah menyampaikan kepada Direktur Urais bahwa kelompok Pimpinan Raden Ibnu Hajar Pranolo (Mbah Benu) ini punya prinsip sendiri dalam menentukan awal Ramadan dan Syawal.

“Mereka punya prinsip memulai puasa dan Lebaran, juga punya dalil sendiri yang diyakini oleh Pak Ibnu dan para pengikutnya,” kata Jauhar saat dihubungi, Jumat (5/4/2024).

“Kita tidak bisa memaksakan aturan yang dipakai pemerintah, tidak bisa meskipun tahun ini agak mencolok karena bedanya lima hari. Biasanya kan satu dua hari dengan Aolia,” sambungnya.