Inventarisasikan Jurnal Penelitian, Pemprov Kalsel Ingin Lestarikan Ragam Hayati di Situs Geopark Meratus

BANJARBARU, KALIMANTANLIVE.COM – Pelestarian keanekaragaman hayati di kawasan Geopark Meratus saat ini telah diupayakan melalui beberapa program, baik yang diinisasi oleh Pemerintah, maupun secara mandiri atau kolaborasi oleh pihak komunitas, akademisi, yayasan, juga swasta/pelaku usaha.

Saat ini Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan (Pemprov Kalsel) melalui Badan Pengelola Geopark Meratus (BPGM) telah menginventarisasi artikel-artikel dari jurnal penelitian dalam kurun 5 tahun terakhir terkait keanekaragaman hayati, yang tentunya sangat bermanfaat bagi upaya pelestarian dan pengembangan pemanfaatan kawasan kedepannya.

# Baca Juga :Bank Kalsel Perkuat Kemitraan dengan BP Geopark Meratus, Dukung Pengrajin Sasirangan di Desa Belangian

# Baca Juga :PWI Puji Kesiapan Kalsel Tuan Rumah Porwanas 2024, Paman Birin Promosikan Geopark Meratus

# Baca Juga :Jelang Penilaian UNESCO, Pemprov Kalsel Datangi Desa Wisata Belangian Sosialisasi Geopark Meratus

# Baca Juga :Pemprov Kalsel Ajak Semua Pihak Bahu Membahu Optimalkan 54 Situs Songsong Geopark Meratus Menjadi UGGp 

“Sebagai bentuk implementasi kerja sama dibidang pengembangan penelitian dengan mitra akademisi Badan Pengelola Geopark Meratus (BPGM), yaitu Universitas Lambung Mangkurat (ULM), pada tahun 2024 ini kami mendapat dukungan melalui UPA Lingkungan Lahan Basah (UPA LLB) yang diketuai oleh Ibu Maya untuk melakukan penelitian mandiri keanekaragaman hayati di Hutan Hujan Tropis Kahung, Desa Belangian yang mana merupakan situs Geopark Meratus di Rute Timur,” kata Hanifah Dwi Nirwana selaku Ketua Harian BPGM, Banjarbaru, Jumat (24/5/2024).

Hanifah yang juga Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Kalsel ini juga menyebutkan bahwa di kawasan hutan tersebut tumbuh ragam flora, seperti berbagai jenis tegakan pohon yang tumbuh secara alami, berbagai spesies jamur, anggrek serta kantong semar.

“Kedepannya juga BGPM menginisiasi kolaborasi dengan UPT Tahura dan juga Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia akan membangun pusat riset biodiversitas Hutan Hujan Tropis Kahung yang kaya akan manfaat baik secara bidang hayati juga memberikan dampak ke ekonomi masyarakat di sekitar melalui pengembangan wisata minat khusus dari daya tarik fauna dan floranya,” ucap Hanifah.

Diakuinya, di kawasan hutan ini juga menjadi habitat tinggalnya berbagai spesies Herpetofauna dan burung-burung, bahkan mamalia seperti Monyet dan Lutung yang perlu diidentifikasi lebih jauh dan di kawasan Geopark Meratus juga telah dikembangkan pusat konservasi fauna dan flora endemik Kalsel.

“Yakni diantaranya pertama Rumah Konservasi Anggrek di Tahura Sultan Adam oleh UPT Tahura Sultan Adam. Disini terdapat sekitar 110 jenis anggrek yang terdiri dari 58 jenis anggrek spesies asli dan 58 jenis anggrek lain yang berasal dari luar wilayah Taman Hutan Raya Sultan Adam Mandiangin dan pemberian dari pihak ketiga,” terang Hanifah.

Selanjutnya ada Kampung Anggrek Raudatul Jannah di Desa Tumingki Kabupaten HSS, kolaborasi antara DLH Provinsi Kalsel, BPGM bersama PT Antang Gunung Meratus, Pemkab HSS, PAI dan LAN yang akan diresmikan pada 26 Mei 2024. Pengembangan Kampung Anggrek ini menjadi cita-cita bersama agar masyarakat teredukasi bagaimana memberikan perlindungan dan pelestarian terhadap anggrek-anggrek spesies yang ada di Desa Tumingki dan sekaligus bagaimana masyarakat dapat mengelola secara bijak dari kekayaan biodiversitas di kawasan Loksado.