Heboh! Penipuan Batu Bara Perusahaan India yang Disebut-sebut Libatkan PT Jhonlin, Ternyata Dalangnya Yahudi

KALIMANTANLIVE.COM – Skandal dugaan penipuan batu bara yang dilakukan Adani Group di India ternyata mengaitkannya dengan perusahaan asal Kalimantan Selatan, PT Jhonlin Baratama.

Namun, kasus yang menjadi topik pemberitaan sejumlah media nasional dan menyebutnyebut PT Jhonlin Baratama terlibat, ternyata sangat tidak berdasar.

Dalam kasus ini PT Jhonlin dalam proses pembelian batu bara oleh perusahaan raksasa asal India, hanya berperan sebagai penjual, dan tidak terlibat sama sekali dalam dugaan penipuan harga dan kualitas kandungan batu bara. Terlebih, juru bicara Adani Group sudah membantah tudingan tersebut.

# Baca Juga :SDN 7, MTsS SabiluI Muttaqiin dan SMAN 2 Juara KDC 2023, Segini Hadiah Bonus dari PT Jhonlin

# Baca Juga :Berhadiah Rp 2 Miliar, Ribuan Goweser Ikuti Jhonlin Ride 2023, H Isam Finish Pertama

# Baca Juga :Wakil Bupati Kotabaru Andi Rudi Latif Lepas Keberangkatan 50 Jemaah Umrah Gratis PT Jhonlin Group

# Baca Juga :Jhonlin Group Umrahkan Gratis 50 Warga Kotabaru, Mulai Imam Masjid hingga Anggota TNI dan Polri

Mencuatnya dugaan penipuan oleh Adani group ini diduga ada kaitannya dengan miliader Yahudi berkebangsaan Amerika Serikat, George Soros. Tuduhan serupa pernah mengemuka pada tahun 2015-2016 lalu.

Awalnya, Proyek Pelaporan Kejahatan dan Korupsi Terorganisir atau Organized Crime and Corruption Reporting Project (OCCRP) membongkar dugaan penipuan batu bara yang menyeret Adani Group.

Berdasarkan dokumen OCCRP, Adani Group membeli batu bara dari PT Jhonlin dengan harga 28 dolar AS per ton. Pada Desember 2013, kapal MV Kalliopi L membawa batu bara itu, meninggalkan Indonesia menuju India.

Batu bara itu digunakan untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) milik PLN-nya India.

Dalam transaksinya, melibatkan Supreme Union Investors yang berbasis di British Virgin Islands, sebagai perantara. Sehingga proses ini benar-benar murni bisnis.

Selanjutnya, Supreme melayangkan tagihan kepada Adani di Singapura, untuk pengiriman tersebut. Harganya 34 dolar AS per ton dan menyatakan batu bara tersebut mengandung 3.500 kalori per kilogram (kg).

Oleh Adani, batu bara tersebut dijual ke perusahaan Pembangkitan dan Distribusi Tamil Nadu (Tangedco) dengan harga 92 dolar AS per ton. Tiga kali lipat dari harga belinya. Adani Group juga mencantumkan spesifikasi batu bara tersebut mengandung 6.000 kalori per kg.

Dengan asumsi harga rata-rata batu bara sebesar 86 dolar AS per ton, OCCRP menyebut, keuntungan Adani Group dan perantaranya mencapai 46 dolar AS per ton.

Untuk 22 pelayaran totalnya 70 juta dolar AS, atau setara Rp1,12 triliun (asumsi kurs Rp16.000).

Juru bicara Adani Group sudah membantah tudingan tersebut. Dia menyatakan, kualitas batu bara miliknya, sudah diuji secara independen di tempat pengangkutan, serta oleh bea cukai dan ilmuan Tangedco.

“Batu bara yang dipasok telah melewati proses pemeriksaan kualitas yang rumit oleh berbagai lembaga di berbagai tempat. Jelas bahwa tuduhan pasokan batu bara berkualitas rendah, bukan hanya tidak berdasar dan tidak adil. Tetapi juga sangat tidak masuk akal,” kata juru bicara Adani yang enggan disebut namanya.