Lantaran sebelumnya jalan tersebut mulus beraspal, mala menurutnya pihak kontrak proyek fisik tersebut juga harus mengaspal kembali atau mengembalikan seperti kondisi semula.
Khaidir yang baru saja mendapat penghargaan lingkungan dari Pemkab Tala ini mengatakan pembangunan pengaman pantai di tiga kampung nelayan itu (Takisung, Pagatan Besar, Tabanio), memang penting untuk mengamankan rumah nelayan yang berada di kawasan pesisir.
Tapi hendaknya proyek tersebut juga memperhatikan jalan yang dilintasi. Apalagi jalan tersebut merupakan jalan poros sekaligus jalan alternatif menuju Banjarmasin dari wilayah Takisung.
Menurutnya sangat penting dilakukan pembatasan tonase armada angkutan yang mengangkut material proyek tersebut supaya disesuaikan kelas jalan setempat.
Dalam hal ini menurutnya perlu ketegasan sikap dari instansi terkait seperti Dinas Perhubungan (Dishub) Tala. Instansi ini dapat berkoordinasi dengan Dinas PUPRP Tala guna bersama-sama melakukan pengawasan dan pengaturan angkutan tersebut agar tidak kian menyebabkan kerusakan jalan yang meluas.
“Bagaimana agar bisa sama-sama berjalan baik. Pembangunan pemecah gelombangnya berjalan lancar dan jalan umum jangan sampai rusak,” tandas Khaidir.
Pasalnya jalan merupakan hal penting bagi aktivitas masyarakat, menjadi urat nadi perekonomian warga. Jika jalan rusak apalagi rusak berat, maka akan berdampak terhadap aktivitas masyarakat.
Apalagi di kampung nelayan tersebut juga ada beberapa objek wisata pantai. Apabila jalan rusak parah tentu pengunjung pun akan enggan datang.
Terpisah, Kepala Dinas Perhubungan Tala Danoe Sulaiman ketika dikonfirmasi mengatakan pihaknya akan berkoordinasi dengan Dinas PUPRP terkait lalu lintas angkutan material proyek tersebut.(kalimantanlive.com/syahza rei maghribbi)
editor : TRI







