Cendekiawan Islam Indonesia Puji Pencapaian China Lestarikan Keberagaman Masyarakat di Xinjiang

Xinhua: Apa yang paling mengesankan dalam kunjungan ke Xinjiang kali ini?

Abdul Mu’ti: (Paling berkesan) terutama adalah alat musik khas yang masih dikembangkan oleh masyarakat setempat, bahkan sampai ada museum yang khusus dibangun untuk melestarikan alat-alat musik dan kesenian daerah. Hal ini tidak hanya mendukung pelestarian budaya, tetapi juga menjadikan budaya itu sendiri semakin berkembang, bahkan untuk kehidupan secara ekonomi. Menurut saya, ini menjadi sebuah afirmasi yang sangat signifikan dari pemerintah China terhadap masyarakat, khusus masyarakat Muslim di Xinjiang.

BACA JUGA: Miliki Tinggi Badan 220 Cm, Pebasket China Zhang Ziyu: Kedua Orangtua Saya Adalah Pebasket

Xinhua: Menurut pandangan Bapak, bagaimana kondisi ekonomi termasuk sektor pariwisata di Xinjiang?

Abdul Mu’ti: Saya lihat ekonominya bergerak relatif baik. Salah satunya terlihat dari betapa antusiasnya para pengunjung dan konsumen dalam sebuah bazar di Urumqi. Mereka sibuk berbelanja makanan dan aneka aksesori bahkan hingga larut malam.

Selain itu, ada pula pengunjung mancanegara dari Eropa dan Amerika, serta banyak turis dari provinsi-provinsi lainnya di China.

Abdul Mu’ti menikmati alunan alat musik tradisional di Daerah Otonom Uighur Xinjiang di China barat laut dalam kunjungan delegasi Indonesia,baru-baru ini. (foto: Xinhua)

Xinhua: Pemerintah Amerika Serikat (AS) memasukkan beberapa perusahaan Xinjiang ke dalam daftar hitam dengan alasan “praktik kerja paksa”. Apa komentar Bapak tentang langkah AS ini? Apakah Bapak menyaksikan atau melihat sendiri ada kerja paksa di Xinjiang?

Abdul Mu’ti: Menurut saya, saya tidak melihat ada “kerja paksa”. Saya sempat berkunjung ke salah satu pabrik yang mempekerjakan hampir 100 orang. Pengusahanya mengembangkan industri berbasis hasil bumi atau hasil pertanian. Mereka mengolahnya menjadi makanan siap saji, dan rasanya juga lezat. Saya membawa beberapa produknya sebagai oleh-oleh. Bisnis perindustrian di Xinjiang sangat beragam, sehingga benar-benar mendorong kegiatan ekonomi di sana.

Xinhua: Umat Muslim di Gaza menghadapi kesulitan yang sangat besar, tetapi menurut Bapak mengapa beberapa pihak tertentu nasib masyarakat di Gaza, alih-alih “memedulikan” soal Muslim di Xinjiang?

Abdul Mu’ti: Perihal isu Palestina, saya merasa dukungan dari pemerintah maupun rakyat Indonesia sangat tinggi.

Untuk China, saya sudah melihat warga China memiliki kebebasan dalam beragama dan mengekspresikan kebudayaannya. Kebijakan dan upaya China dalam melindungi kebudayaan itu dapat diteladani.

Selain itu, Xinjiang juga cukup terampil dalam mengembangkan ekonominya dengan bantuan teknologi. Di Yining, terdapat kawasan yang gersang, tetapi berkat dukungan teknologi pertanian yang maju, kawasan itu mampu melahirkan industri bunga lavender, buah aprikot, dan sebagainya. Secara lokal, warganya diberi kesempatan untuk berkembang dengan bantuan teknologi yang maju.