Ketika ditanya mengapa Kemenkes RI memilih rumah sakit China untuk dimanfaatkan dalam melatih dokter spesialis Indonesia, dia mengatakan, “China populasinya besar, pasiennya banyak, mereka memberi kesempatan jika kita mengirimkan orang kita ke sana untuk belajar dan melakukan pembelajaran berdasarkan pengalaman dan praktik langsung (hands-on), ini keuntungannya.”
“Kedua, tentunya China dan Indonesia sama-sama negara Asia, jadi proses adaptasinya pasti akan lebih mudah dan sekarang juga di rumah sakit China mereka sudah berbahasa Inggris, mudah-mudahan tidak ada kendala dalam komunikasi,” tambahnya.
BACA JUGA: Pasar Game China Catat Pertumbuhan Pendapatan 15,12 persen pada Februari 2024
Dia mengatakan Rumah Sakit Jantung Rizhao adalah salah satu rumah sakit dengan pasien terbanyak dan menjadi pilihan tepat untuk menjalin kerja sama. “kami sudah melakukan peninjauan, dan rumah sakit tersebut memberikan kuota paling besar untuk dokter kita hands-on di sana, tentu perspektifnya bagus,” katanya.
Arianti menuturkan kepada Xinhua bahwa sudah ada dokter Indonesia yang pergi ke China untuk belajar sebelum Kemenkes RI menandatangani perjanjian pelatihan dengan rumah sakit China, namun semuanya adalah kasus perorangan.
“Itu rupanya P2P (people to people), sekarang kami ingin memayungkan melalui Kemenkes RI dan menjadikannya G2G (government to government), jumlah orang akan lebih banyak dan lebih terarah,” katanya.
Selain akan dikirimkan lebih banyak dokter, Arianti mengatakan Kemenkes RI juga akan mengirimkan tenaga-tenaga penunjang lainnya, misalnya perawat spesialis, ke China untuk belajar.
“Berikutnya, kami juga ingin melakukan penelitian bersama (joint research) dengan China, karena kami lihat penelitiannya di sana sudah luar biasa,” ujarnya.
“Kami senang sekali karena memang kunjungan ini adalah upaya untuk menjajaki kolaborasi Indonesia dan China terutama untuk kerja sama di mana Indonesia akan mengirimkan dokter spesialis guna melakukan praktik langsung,” jelasnya.
Sumber: Xinhua
Editor: elpian







