Dirjen Nakes: Indonesia akan Kirim SDM Kardiovaskular ke China dan Perdalam Kerja Sama Bidang Kesehatan

JAKARTA, Kalimantanlive.com – Direktur Jenderal (Dirjen) Tenaga Kesehatan (Nakes) drg. Arianti Anaya mengatakan kerja sama yang terjalin antara Kementerian Kesehatan RI dan China saat ini sangat baik, Indonesia akan mengirim sumber daya manusia (SDM) Kardiovaskular ke China terima pelatihan dan berharap dapat mengembangkan kerja sama yang lebih mendalam lagi

“Saya rasa China sekarang sudah maju sekali di bidang kesehatan, termasuk dalam hal teknologi, riset, dan juga dokter-dokternya. Kami berharap nanti akan ada kerja sama yang lebih mendalam lagi sehingga kita dapat belajar baik mengenai teknologi kesehatannya, sisi kompetensi dokternya, dan riset-risetnya,” ujar Arianti kepada Xinhua dalam sebuah wawancara, di Jakarta, pada Kamis (11/7/2024).

BACA JUGA: Cendekiawan Islam Indonesia Puji Pencapaian China Lestarikan Keberagaman Masyarakat di Xinjiang

Arianti memimpin delegasi dari Kemenkes RI yang mengunjungi beberapa rumah sakit di China pada Juni lalu. Dalam kunjungannya, Kemenkes RI menjalin kerja sama dengan Rumah Sakit Jantung Rizhao, yang berlokasi di Provinsi Shandong, China timur, melalui penandatanganan surat pernyataan niat (letter of intent/LoI) Kerja Sama Pelatihan Dokter Kardiovaskular.

Selain itu, Kemenkes RI juga menandatangani sejumlah perjanjian kerja sama dengan beberapa rumah sakit ternama di China, antara lain Rumah Sakit Zhongshan di Shanghai dan Rumah Sakit Peking Union Medical College di Beijing.

Rombongan delegasi Kemenkes RI mengunjungi Rumah Sakit Zhongshan, Universitas Fudan di Shanghai, China. (Sumber foto: Kemenkes RI)

Melalui kerja sama dengan Rumah Sakit Jantung Rizhao, dalam lima tahun ke depan, Kemenkes RI akan mengirim sejumlah dokter, perawat, dan teknisi kardiovaskular untuk belajar lebih lanjut.

Arianti mengatakan di Indonesia saat ini masih sangat kekurangan dokter spesialis, khususnya untuk penyakit kanker, jantung, strok dan ginjal.

Dirjen Nakes RI itu mengungkapkan bahwa Indonesia sudah dapat pinjaman untuk membeli alat-alat medis hingga 2027, sembari mengatakan “Kalau soal membeli alat, itu mudah saja, masalahnya ada pada SDM-nya. Bersamaan dengan alat-alat itu datang, kita juga harus menyiapkan orang-orangnya.”