Dalam kunjungan mereka ke Hytera, delegasi itu mencermati secara rinci berbagai produk dan teknologi perusahaan tersebut.
Mereka berhenti untuk mengamati beragam benda yang dipamerkan, seperti stasiun pangkalan yang ditingkatkan, terminal di dalam kendaraan (in-vehicle), dan alat perekam penegakan hukum, serta menanyakan tentang parameter terkait dan skenario penerapan produk-produk tersebut.
Hytera mendirikan sebuah anak perusahaan di Indonesia pada 2018, memberikan dukungan kepada para mitra dan pelanggan di berbagai industri seperti keselamatan publik, minyak dan gas, pertambangan, penerbangan sipil, transportasi kereta, dan perdagangan.
Perusahaan itu juga menjadi mitra utama layanan komunikasi keamanan dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kelompok 20 (Group of Twenty/G20) Indonesia 2022.
Kunjungan ke Shenzhen ini merupakan tempat perhentian kedua dalam kunjungan delegasi Muhammadiyah ke China. Pesatnya perkembangan kota inovatif ini melalui reformasi dan keterbukaan telah meninggalkan kesan mendalam bagi para delegasi.
Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Tenggara Sainuddin Nuddin Pempeng mengaku takjub atas pencapaian perekonomian Shenzhen hanya dalam kurun waktu 40 tahun, dan yakin Indonesia harus belajar dari Shenzhen.
Sementara itu, Erwin Prasetyo, Rektor Universitas Muhammadiyah Maumere di Provinsi Nusa Tenggara Timur, menyatakan kunjungan ke Shenzhen ini telah mengubah persepsinya terhadap China.
Dia menyadari bahwa China memang merupakan negara yang terbuka, dan pencapaian yang diraih Shenzhen dalam 40 tahun terakhir melakukan reformasi dan keterbukaan adalah buktinya.
Sumber: Xinhua
Editor: elpian
Kalimantanlive.com







