Tak hanya itu ia juga membeberkan bahwa kunjungan Posyandu pada bulan Juni meningkat, dengan 97% anak diperiksa tumbuh kembangnya, dibandingkan biasanya yang hanya 85%.
Namun, prevalensi stunting di Kalimantan Selatan masih tinggi, mencapai 31% dari yang sebelumnya 26% di tahun 2022. Di Banjarmasin sendiri, prevalensinya turun menjadi 22%, namun masih perlu perhatian serius karena dari 10 anak, hampir 25% di antaranya stunting.
“Dari data bulan Juni, 70% anak yang diperiksa memiliki masalah gizi yang jika tidak diintervensi dapat berujung pada stunting. Saat ini ada 1.300 anak di Banjarmasin yang didiagnosa stunting dan pemerintah telah menyiapkan program penanganannya,” jelas Wasilah.
Ia berharap upaya-upaya ini menjadi kontribusi positif bagi Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, dan Indonesia.(Kalimantanlive.com/Lina)
editor : TRI







