Salah satu contoh praktik baik berasal dari Universitas Muhammadiyah Pontianak, yang telah membentuk tim khusus untuk mengelola MBKM Mandiri. Menurut Doddy Irawan, Rektor Universitas Muhammadiyah Pontianak, perguruan tinggi tersebut telah mengirimkan mahasiswa ke Amerika Serikat, Malaysia, Filipina, dan Spanyol sejak tahun 2021.
“Kami mencoba menggaet, ternyata banyak universitas dari luar yang memberikan pendanaan untuk pertukaran pelajar. Tahun ini, kami mengirimkan mahasiswa ke Spanyol selama lima bulan dengan dana yang sepenuhnya ditanggung oleh Uni Eropa melalui skema Erasmus,” jelas Doddy Irawan, seraya menambahkan bahwa kerja sama ini akan berkelanjutan hingga tahun 2027.
Universitas Muhammadiyah Pontianak juga menjalin kerja sama dengan Universitas Granada, Universitas Malaga, dan Universitas Cordoba. Mereka mempersiapkan mahasiswa dengan seleksi sejak semester 1-2 dan memberikan pelatihan bahasa sebelum dikirim ke luar negeri.

Program MBKM Mandiri lainnya di Universitas Muhammadiyah Pontianak adalah magang bersertifikat. Saat ini, universitas tersebut bekerja sama dengan BUMN seperti PTPN dan PLN, serta Indofood.
Meski sejumlah perguruan tinggi swasta telah sukses mengimplementasikan MBKM Mandiri, Muhammad Akbar menyatakan bahwa pelaksanaan MBKM Mandiri di Kalimantan masih belum merata.
Kendala utama adalah masalah anggaran karena perguruan tinggi swasta cenderung membebankan semua biaya kepada mahasiswa. Selain itu, tidak semua wilayah di Kalimantan memiliki industri yang dapat menerima mahasiswa magang.
Selain itu, ada paradigma bahwa program studi dan tempat magang harus saling terkait, misalnya mahasiswa teknik magang di pertambangan dan mahasiswa perkebunan atau pertanian magang di industri perkebunan. Industri pertambangan dan perkebunan memang banyak ditemukan di Kalimantan, namun hal ini menyulitkan mahasiswa dari bidang ilmu umum seperti ekonomi dan sosial.
“Yang kita inginkan adalah mahasiswa bisa mengembangkan minat atau bakat ilmu di bidang lain, sehingga bisa mengeksplor,” jelas Muhammad Akbar. Topografi Kalimantan yang luas juga menjadi tantangan dalam pendampingan implementasi MBKM Mandiri.









