Manifestasi Wirausaha Muda Berbasis Digital ala Politeknik Hasnur

Terkait desain kelas, Siti menjelaskan bahwa pelaksanaan program Wirausaha Merdeka di Politeknik Hasnur akan dibagi menjadi tiga tahap, yaitu pre-immersion, immersion, dan post-immersion. Selain itu, Politeknik Hasnur memiliki syarat tambahan bagi pendaftar, yaitu mahasiswa harus sudah memiliki ide bisnis atau pitch deck.

Pre-immersion merupakan tahap pembekalan yang akan diadakan selama tiga minggu pertama. Pada tahap ini, mahasiswa peserta Wirausaha Merdeka akan mendengarkan materi dari para praktisi selama setengah hari yang dilanjutkan dengan tugas berupa validasi produk dan validasi bisnis.

BACA JUGA: Expo Merdeka Belajar Politala Semarak, Pelaku UMKM dan Mitra Kerja Antusias Ambil Bagian

Untuk validasi produk, mahasiswa akan diminta melakukan wawancara ke target pasar yang sudah ditentukan dalam pitch deck. Sementara, validasi bisnis dilakukan dalam bentuk pembukaan pre-order produk bisnis.

Pelatihan Manajemen Bank Sampah dan peningkatan sumber daya sampah se-kabupaten Banjar bekerja sama PT Tanjung Alam Jaya dan Pemkab Banjar. (Humas Kampus Merdeka)

Tahapan berikutnya adalah immersion yang akan berlangsung selama satu setengah bulan. Pada tahap ini, mahasiswa akan mendapatkan mentoring dari para praktisi untuk merealisasikan ide bisnis mereka.

Selain itu, mahasiswa juga akan melakukan magang di unit usaha kecil dan menengah untuk mempelajari operasional dan cara kerja pelaku usaha. Unit kecil dan menengah dipilih karena dapat memberikan pengalaman multidimensi dan multi-skill kepada mahasiswa.
Berbeda dari perusahaan besar, unit kecil dan menengah mengurus pemasaran, keuangan, produksi, dan mencari target pasar secara mandiri.

“Untuk tahap immersion, kita akan mencetak mahasiswa yang bisa menjalankan bisnis sembari melihat bagaimana sebuah usaha berjalan. Jadi, pagi sampai siang mereka melihat cara pelaku bisnis menjalankan usaha, lalu setengah hari berikutnya mereka mengeksekusi ide bisnis,” jelas Siti.

Politeknik Hasnur juga akan membantu mengklasifikasikan mahasiswa menjadi beberapa kelas, seperti kelas UMKM, kelas inovasi, dan kelas produk digital. Lalu, mahasiswa akan dikelompokkan lagi berdasarkan produk yang mereka hasilkan. Sebagai contoh, para mahasiswa yang sama-sama membuat produk keripik akan ditempatkan di UMKM yang berfokus pada keripik. Hal ini dilakukan untuk memastikan tempat magang dan ide bisnis mahasiswa sudah selaras.