KOTABARU, KALIMANTANLIVE.COM – Desa Berangas, Kecamatan Pulau Laut Timur diera tahun 2000-an pernah dijuluki Bumi Rancah Maurai, juga lumbung padi di Kabupaten Kotabaru. Seiring waktu sebutan itu kini nyaris tak terdengar.
Dijuluki Bumi Rancah Maurai, selepas pemekaran Kabupaten Kotabaru dengan Kabupaten Tanah Bumbu. Kecamatan Pulau Laut Timur dilirik, karena satu-satunya wilayah memiliki lahan pertanian sangat luas.
Nama Bumi Rancah Maurai, lumbung padi kala itu Kabupaten Kotabaru dipimpin H Sjachrani Mataja, Bupati Kotabaru periode 2000 – 2010.
Ditambah sinergitas kepala dinas, camat yang menjabat sejalan dengan program Sjachrani Mataja di masa itu, menjadikan hamparan lahan tidur sangat luas dengan cepat diolah jadi lahan produktif penghasil padi.
Namun kini sebutan Bumi Rancah Maurai, juga sebagai lumbung padi kian meredup, nyaris tak terdengar seakan tinggal kenangan.
Baca Juga : Disparpora Kenalkan Sasirangan Khas Kotabaru Melalui Fashion Week Festival 2024
“Benar sebutan itu, Bumi Rancah Maurai 60 persen tidak terdengar,” ujar Rasid warga Berangas kepada Kalimantanlive.com, Sabtu (28/9/2024).
Rasid menjelaskan, julukan Bumi Rancah Maurai, lumbung padi di Pulau Laut Timur dengan hamparan lahan tidur sangat luas. Saat kepemimpinan Sjachrani Mataja, lahan tidur dibuka seluas-luasnya untuk area persawahan.
Saking luasnya lahan dibuka, dari Berangas, Sungai Limau sampai ke desa tetangga terlihat hanya hamparan sawah membentang.
“Pembukaan lahan waktu itu cepat, beberapa alat digunakan. Satu orang bisa sampai lima hektare untuk menggarap sawah,” jelasnya.
Sepuluh tahun setelah masa jabatan Bupati Sjachrani Mataja, sebutan Bumi Rancah Maurai, Pulau Laut Timur sebagai lumbung padi kini kian meredup.







