BANJARMASIN, Kalimantanlive.com – Untuk mengatasi berbagai masalah kesehatan ibu dan anak di Kalimantan Selatan, Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan mengadakan Rapat Evaluasi Lintas Sektor Kesehatan Ibu dan Anak.
Rapat ini membahas sejumlah isu, termasuk masalah gizi seperti weight faltering, underweight, gizi buruk, gizi kurang, dan stunting, dengan tujuan menggalang komitmen dan kerja sama lintas sektor di luar bidang kesehatan.
BACA JUGA: Dinkes Kalsel Berupaya Maksimal Capai Target 95 Persen dalam PIN Polio Nasional
Plt Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan, Nurul Ahdani, menegaskan bahwa pemerintah lintas program, sektor swasta, dan pihak lainnya memiliki peran penting dalam mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) kesehatan yang kompeten dan memenuhi standar. Hal ini bertujuan untuk menekan angka kematian ibu dan bayi di Kalimantan Selatan.
“Kami akan mengevaluasi peran lintas sektor dalam program Kesehatan Keluarga dan Gizi tahun 2024, termasuk pencapaian indikator RPJMN dan Renstra, serta menyusun Rencana Kegiatan Program Kesehatan Keluarga dan Gizi tahun 2025,” ujar Nurul dalam pertemuan yang berlangsung di Banjarmasin, Selasa (29/10/2024).
Data Riskesdas tahun 2018 menunjukkan angka underweight sebesar 24,5%, stunting sebesar 33,2%, dan wasting sebesar 13,1% di Kalimantan Selatan, yang masih jauh dari target nasional.
“Data ini mencerminkan bahwa layanan gizi belum sepenuhnya dirasakan masyarakat. Partisipasi masyarakat dalam pemantauan gizi sangat penting untuk mendukung program ini,” tambah Nurul.










