Tiga preseden penting ditetapkan pada KTT penting itu. Untuk pertama kalinya, pembangunan menjadi fokus utama dalam kerangka kerja kebijakan makro global, sebuah rencana aksi diadopsi dalam Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030, dan G20 sebagai sebuah kelompok memberikan dukungan bagi industrialisasi di Afrika dan negara-negara kurang berkembang (least developed countries/LDC).
Xi, dalam pidato utamanya, menggambarkan ketiga “hal pertama” tersebut sebagai “langkah-langkah terobosan yang penting.”

Untuk membantu negara-negara berkembang lainnya mewujudkan aspirasi pembangunan mereka, Xi juga berusaha meningkatkan representasi mereka dalam sistem tata kelola ekonomi global. Terlepas dari kebangkitan Global South yang luar biasa selama beberapa tahun terakhir, negara-negara berkembang masih kurang terwakili dalam tata kelola global.
“Sistem tata kelola global yang didominasi oleh Barat telah menjadi sangat tidak setara dan tidak adil, sehingga menghambat keamanan global dan pembangunan berkelanjutan,” tutur Xu Feibiao, direktur Pusat Studi BRICS dan G20 di Institut Hubungan Internasional Kontemporer China (China Institutes of Contemporary International Relations/ICIR).
Pada KTT G20 2022 di Bali, China menjadi yang terdepan dalam mendukung keanggotaan Uni Afrika (UA) di G20. Pada pertemuan mereka di sela-sela KTT, Presiden Senegal Macky Sall, yang juga menjabat sebagai ketua UA pada tahun itu, berterima kasih kepada Xi karena telah menjadi sosok pertama yang secara terbuka mendukung keanggotaan UA di G20.
Setahun kemudian, blok tersebut menjadi organisasi regional kedua, setelah Uni Eropa, yang bergabung dengan G20 sebagai anggota tetap.







