VALENCIA, KALIMANTANLIVE.COM – Sekitar 100.000 warga Valencia, Spanyol, turun ke jalan pada Sabtu (30/11/2024) memprotes lambannya penanganan pemerintah terhadap banjir mematikan yang menelan korban hingga 230 jiwa.
Aksi ini menjadi puncak kemarahan publik atas bencana banjir terburuk dalam satu generasi yang melanda pada 29 Oktober 2024. Peristiwa tersebut menghancurkan rumah, toko, dan menghanyutkan ribuan kendaraan.
# Baca Juga :Belasan Ribuan Jemaah ‘Banjiri’ Tabalong Bershalawat Bersama Habib Ali Zainal Abidin Assegaf
# Baca Juga :Warga Sebut Bangunan Median Jalan Penyebab Banjir di Ruas Jalan Kotabaru
# Baca Juga :Diguyur Hujan Ruas Jalan Kotabaru Banjir, Rajudinoor Siagakan Personel Pamong Praja
# Baca Juga :Pemprov Kalsel Berikan Strategi Atasi Banjir Lewat Kajian Pemetaan Daerah Rawan Banjir
Tuntutan Pengunduran Diri Pemimpin Daerah
Demonstran mengecam Ketua Pemerintahan Valencia, Carlos Mazon, yang dinilai gagal memberikan peringatan dini dan merespons bencana dengan cepat.
“Apa yang salah? Ketidakmampuan. Kami di sini karena banyak orang tidak kompeten yang tetap dibayar,” ujar Raquel Ferrandis, seorang guru dari Paiporta, salah satu kota terparah yang terkena dampak banjir.
Para pedemo juga membawa spanduk dan meneriakkan slogan agar Mazon mengundurkan diri atau bahkan dipenjara.
Sebagian besar warga mengeluhkan lambatnya peringatan bencana yang baru diterima melalui ponsel ketika banjir sudah menggenangi jalan-jalan.
Beberapa wilayah bahkan tidak mendapatkan bantuan dari pemerintah selama beberapa hari dan harus bergantung pada relawan untuk makanan, air, dan peralatan kebersihan.
Pemerintah Valencia juga dikritik keras karena baru mengeluarkan peringatan 12 jam setelah badan meteorologi Spanyol memperingatkan adanya hujan lebat dan risiko banjir.










