OJK Kalsel: Kinerja Sektor Jasa Keuangan Kalsel Tumbuh Positif Dukung Ekonomi Daerah

Sementara aset menunjukkan pertumbuhan sebesar 13,00 persen menjadi Rp103,32 triliun (September 2024: 13,97 persen).
Berdasarkan jenis penggunaan, kredit investasi tumbuh tertinggi yaitu sebesar 38,10 persen, diikuti oleh kredit modal kerja sebesar 34,95 persen, sedangkan kredit konsumsi tumbuh sebesar 13,14 persen.

Adapun intermediasi perbankan cukup baik dengan Loan-to-Deposit Ratio (LDR) sebesar 83,16 persen dan profil risiko perbankan yang relatif terjaga dengan Non-Performing Loan (NPL) Nett sebesar 1,00 persen (September 2024: 0,96 persen).

Baca Juga:Kepala OJK Kalsel Agus Maiyo: Sektor Jasa Keuangan Kalsel Terjaga Stabil, Perekonomian Tumbuh Positif

Sementara itu, kinerja perbankan syariah tetap menunjukkan pertumbuhan positif dengan rincian Aset, DPK, Pembiayaan Kalsel secara yoy tumbuh 21,74 persen, 19,55 persen, dan 19,54 persen. Dimana Financing to Deposit Ratio (FDR) sebesar 86,93 persen dan Non-Performing Finance Nett sebesar 0,73 persen.

Industri Keuangan Nonbank

TERDAPAT 1 Dana Pensiun yang berkantor pusat di Kalsel, yaitu Dana Pensiun BPD Kalsel. Total aset dana pensiun dalam 5 tahun terakhir (posisi September 2024) konsisten meningkat. Secara persentase, peningkatan aset dana pensiun sebesar 9,08 persen secara yoy, sedangkan secara ytd sebesar 6,65 persen.

Sementara itu, penyaluran pembiayaan modal ventura di Kalsel posisi September 2024 sebesar Rp86 miliar. Nominal pembiayaan tersebut meningkat 10,26 persen secara yoy.

Adapun Non-Performing Financing (NPF) terjaga di angka 2,46 persen dan lebih rendah dibanding NPF Nasional 3,42 persen.

“Kota Banjarmasin merupakan daerah tertinggi penyaluran pembiayaan tersebut dengan nilai Rp52 miliar atau sebesar 60,39 persen dari total penyaluran di Kalsel,” kata Agus.

Sementara itu, peningkatan penyaluran pembiayaan oleh Perusahaan Pembiayaan (PP) sebesar 6,91 persen yoy. Penyaluran tertinggi diserap oleh kegiatan investasi, yaitu sebesar Rp5,9 triliun, diikuti oleh pembiayaan multiguna sebanyak Rp4,3 triliun, dan modal kerja sebesar Rp1,2 triliun.