MUARA TEWEH, KALIMANTANLIVE.COM – Hingga kini pekerjaan sebagai mata pencaharian warga Barito Utara masih banyak bergantung dari bekerja sebagai penyadap karet.
Di desa-desa masih banyak warga yang menjadikan pekerjaan “tertua” di Barito Utara ini sebagai penopang ekonomi keluarganya, bahkan untuk menyekolahkan anak-anaknya.
Bila berkunjung ke desa-desa, disepanjang kiri kanan jalan mudah dijumpai perkebunan karet sekaligus pondokan warga yang tinggal disekitar kebun karetnya.
Namun harga karet saat ini tidak menggiurkan sebagaimana puluhan tahun yang lalu yang pernah mencapai harga 15 ribu hingga 20 ribu perkilo. Saat ini harga karet fluktuatif antara Rp.10.500,- hingga Rp.11.000,- perkilonya.
Demikian disampaikan salah satu penyadap karet bernama Pak Alam yang sudah bertahun-tahun bekerja menyadap karet di Jalan Teluk Mayang (27/12/2024).
“Harga sekarang sudah tidak seperti dulu, saat ini berkisar sepuluh ribu lima ratus hingga sebelas ribu saja,” kata Pak Alam.
Dari informasi warga Desa Hajak yang media ini dapatkan, harga serupa juga dialami penyadap karet di desanya Kecamatan Teweh Baru. Sebagai catatan, harga ini merupakan versi harga tengkulak.
Pak Alam juga meminta perhatian pemerintah untuk sektor perkebunan karet, karena termasuk pekerjaan paling “mendarah daging” di Barito Utara. Ibaratnya, kata dia, bekerja menyadap karet sudah tradisi orang Kalimantan.
Kemudian lagi tambahnya, perkebunan karet kenyataannya memang cocok untuk alam Kalimantan yang berhutan.
“Dahulu dijaman Bupati pak A. Dj. Nihin beliau sangat memerhatikan perkebunan karet dan kesejahteraan petaninya. Karet yang kita lihat saat ini banyak merupakan peninggalan program beliau,” kata Pak Alam.
Ditambahkannya lagi, berkebun karet tidak beresiko merusak alam Kalimantan sebagai paru-paru dunia. Perkebunan karet merupakan usaha yang cocok dengan Kalimantan yang berhutan lebat, ketimbang perkebunan seperti sawit, mencetak sawah atau perkebunan-perkebunan lainnya.









