MUARA TEWEH, KALIMANTANLIVE.COM – Saat memberikan arahan pada acara Musyawarah Perencanaan Nasional RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) di Gedung Bappenas Jakarta, Presiden RI Prabowo Subianto mengatakan, “Saya kira ke depan kita juga harus tambah tanam kelapa sawit, enggak usah takut apa itu katanya membahayakan deforestation. Namanya kelapa sawit ya pohon, iya kan? Kelapa sawit itu pohon dan ada daunnya kan, dia menyerap karbon dioksida,” kata Presiden RI, Senin (30/12/2024).
Deforestasi adalah hilangnya hutan secara luas dan besar-besaran. Dari saluran YouTube Sekretariat Presiden yang menayangkan acara musyawarah tadi, disampaikan pula oleh Presiden RI agar para Gubernur, Bupati, Polisi dan Tentara menjaga kebun-kebun sawit karena merupakan aset negara.
Selain alasan tadi, menurut Prabowo, pengusaha sawit tidak perlu khawatir. Erofa yang mengkhawatirkan hal itu (deforestasi) ternyata juga ketakutan tanpa sawit. Prabowo memisalkan pengolahan coklat, diterjen, kosmetik di erofa, semuanya membutuhkan minyak sawit, kata Presiden Prabowo.
Di tempat terpisah yakni Muara Teweh, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah, media ini mengunjungi salah satu perusahaan sawit yang kian berkembang saat ini di Barito Utara, yaitu PT. Sapalar Yasa Kartika (30/12/2024).
Dalam kesempatan tersebut, media ini diterima dengan baik oleh dua orang bagian dari manajemen Perusahaan, yaitu Didi Ardiansyah selaku Kepala Tata Usaha (KTU) dan Triwijaya selaku Admin Tanam.
Didi Ardiansyah menjelaskan, kebutuhan masyarakat akan minyak sawit kedepannya terlihat tetap tinggi, dan hal itu akan sangat baik sekali bagi usaha bidang kelapa sawit kedepannya.
“Prospek ke depan sangat bagus untuk perkebunan kelapa sawit, sebab sangat menunjang untuk kebutuhan masyarakat,” sebut dia.
Mengenai dampak positif dari operasional perkebunan sawit perusahaan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar kawasan perkebunan, Triwijaya menerangkan, perusahaannya sangat memprioritaskan pekerja yang berasal dari warga lokal setempat sebagai serapan tenaga kerja.
“Lokal diprioritaskan. Seperti Mukut, Lahei II, Ipu, Nihan diantaranya,” jelas Triwijaya.
Sejak 2015, sawit milik PT. Sepalar Yasa Kartika hingga saat ini sudah seluas 400 hektar.
Tentang harga jual sawit saat ini, Didi Ardiansyah menerangkan, dari yang dahulunya 1000 sekarang menjadi 3000 perkilonya.
“Kenaikannya banyak, sangat pesat kenaikannya. Hingga bulan ini masih stabil 3000,” sebut Didi.
Kedepannya, kata Didi, apabila perusahaannya sudah sangat meningkat pesat dari segi keuntungan, pihaknya punya niat baik untuk meningkatkan bentuk-bentuk bantuan bagi masyarakat setempat harapnya.
“Niat itu sudah ada,” tutur Didi.
PT. Sapalar Yasa Kartika sebenarnya adalah perusahaan take over atau mengambil alih dari perusahaan sebelumnya. Beberapa manfaat yang dapat turut dinikmati masyarakat dengan keberadaan perusahaan ini salah satunya adalah jalan.
“Setelah diperbaiki mereka jadi lebih enak,” kata Triwijaya menutup wawancara.
Kalimantan Live/M. Gazali Noor







