Asal Usul Pasar Ipu Muara Teweh, Simak Sejarahnya (Lengkap)

MUARA TEWEH, KALIMANTANLIVE.COM – Satu-satunya Desa di Kabupaten Barito Utara yang nama desanya dijadikan nama pasar tradisional di kota Muara Teweh hanyalah Desa Ipu.

Pasar Ipu yang berlokasi di Jalan Mangkusari Muara Teweh sekarang, sejatinya berawal dari aktivitas mingguan waga desa Ipu yang menggelar lapak jualan hasil buminya di Muara Teweh pada masa lalu.

Hingga kini Pasar tradisional ini tetap eksis, tidak lekang oleh jaman sebagai pasar tradisional yang termasuk paling ramai di Muara Teweh.

BACA JUGA : Sudah Dua Minggu Gaji PNS/ASN Barito Utara Belum Cair, Cek Fakta Sebenarnya

Siapapun yang pernah hidup dan besar di pertengahan 80 hingga 90-an pastinya sangat tahu, bagaimana dulu setiap Minggu akan datang truk yang mengangkut orang-orang Ipu di bak belakang truknya. Di bak belakang truk itu selain membawa warga Ipu laki-laki dan perempuan juga membawa aneka hasil perkebunan.

Kepala Desa Ipu saat ini, Harianto Riadi, yang lahir tahun 1973 adalah seorang yang pernah turut berjualan di Pasar Ipu tempo dulu. Beliau mengisahkan sejarah Pasar Ipu kepada wartawan Kalimantan Live dari sejak paling permulaannya, Jum’at, 17 Januari 2025 Pagi.

Bapak asli Suku Dayak ini mengisahkan bagaimana kenangan tak terlupakannya saat berjualan di Pasar Ipu berpuluh tahun yang silam.

“Saat truk kami sudah masuk menuju lokasi Pasar Ipu, maka masyarakat yang dilalui truk kami akan berteriak berseru, Ipu!…Ipu!…,” kenang Pak Kades ini.

Cerita Pak Kades Harianto Riadi tadi dibenarkan warga lama Jalan Merdeka, Jalan Pangeran Antasari dan Jalan Mangkusari yang dulu pernah menyaksikan sambutan warga Muara Teweh apabila truk warga Ipu tiba saat itu.

Pasar Ipu dahulu dibuka setiap hari Rabu, kemudian tahun 1996 buka dua kali seminggu.

Jarak tempuh dari Desa Ipu ke Muara Teweh diperkirakan sekitar 12 – 18 Km, dan jalan dimasa itu jangan dibayangkan semulus seperti saat ini kata Riadi bercerita.

“Pernah suatu ketika truk kami terbalik,” kata Riadi menceritakan pengalaman pahitnya.

Kades Riadi dan ayahnya yang bernama Bapak Tompu, ketika itu terbilang sangat aktif berjualan hasil tanaman pangan mereka ke Muara Teweh.

Pasar Ipu menurut Riadi dimulai kisaran tahun 1984. Berawal dari kesulitan mencari pasar, lalu dibantu oleh warga Muara Teweh yang berkemampuan untuk memobilisasi warga Ipu berjualan ke Muara Teweh.

“Truk yang mengakut kami saat itu adalah truk milik Alm Kak Mamas, Yusransyah dan Norhalis,” kata Riadi sambil mengingat-ingat.

Pelopor permulaan adanya pasar Ipu menurut Riadi adalah Alm Bapak Kunci, beliaulah pelopor pertama adanya pasar Ipu kenangnya. Waktu itu nama Kepala Desanya Jawit.

Dulu, kata Riadi, ada buku dokumen nama-nama mereka yang berdagang, sayangnya buku itu sudah tidak ada lagi. Dibuku itu dicatat apa saja yang dijual, berapa kilo yang dijual, lalu dari keuntungan berjualan disisihkan lima ratus rupiah (Rp500) untuk membayar ongkos truk angkutnya.

Pasar Ipu tidak luput dari kisah-kisah pahitnya, dari ingin ditutup sama sekali hingga direlokasi kesana kemari oleh Pemerintah saat itu.

“Dahulu pernah mau ditutup sama sekali, namun berkat Pak Samsiner seorang anggota Polisi yang bernegosiasi ke Kapolres waktu itu, penutupan tidak jadi dilakukan,” kata Riadi.