BANJARMASIN, KALIMANTANLIVE.COM – Pasca penutupan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Basirih, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Banjarmasin, Alif Yosvah Love, memberikan tanggapan mengenai langkah-langkah yang telah diambil untuk menangani penumpukan sampah di kota.
Menurutnya, penutupan TPA Basirih yang sudah berlangsung selama 10 hari terakhir berdampak pada pengelolaan sampah, dengan sekitar 450 ton sampah setiap harinya yang belum terkelola dengan baik.
# Baca Juga :Waduh! TPA Basirih Mampu Bertahan 5 Tahun, Wali Kota Banjarmasin Ingin Warga Lakukan Ini
# Baca Juga :DLH Kalsel Siapkan Tindak Lanjut Pengelolaan TPA Menyusul Paksaan Pemerintah
# Baca Juga :Kebakaran di Basirih Banjarmasin, Enam Pintu Bedakan dan Satu Rumah Terdampak
# Baca Juga :Sat Polairud Polresta Banjarmasin Bagikan 1.000 Paket Makanan untuk Jamaah Haul Habib Basirih ke-78
“Setelah sepuluh hari ini, kami lakukan evaluasi harian terkait penumpukan sampah. Ada sekitar 4.500 ton sampah yang belum terkelola dengan baik,” katanya, baru-baru tadi.
Untuk mengatasi masalah tersebut, pihak DLH telah mengambil beberapa langkah, di antaranya dengan memanfaatkan magot untuk pengelolaan sampah organik.
Selain itu, untuk mengurangi beban penumpukan sampah, DLH melakukan pengarungan dengan melibatkan sekitar 200 pemulung yang terdampak penutupan TPA Basirih.
“Kami memanfaatkan rekan-rekan pemulung yang kehilangan pekerjaan di TPA Basirih, di mana mereka membantu dalam pengarungan sampah, ini adalah solusi sementara untuk sedikit meringankan beban mereka,” jelas Alif.
Pihak DLH juga menyiapkan hampir 10 ribu karung untuk menampung sampah yang akan dipindahkan ke stasiun sementara agar tidak meluber ke jalan.
“Karung-karung ini akan ditempatkan di stasiun sementara agar sampah tidak meluber ke jalan,” imbuhnya.
Selain itu, Alif juga mengimbau kepada masyarakat untuk aktif memilah sampah di rumah, dimana sampah organik dan non organik harus dipisahkan.

