Jika terealisasi, investasi ini diproyeksikan mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi Kalsel hingga 1,5 hingga 2,5 persen dan menyerap 10 ribu tenaga kerja.
“Investor Tiongkok akan membangun pabrik pengolahan batubara menjadi amonia hijau dan metanol hijau, serta mengolah sawit menjadi oleochemical dan turunannya seperti kosmetik serta biodiesel B50,” jelas Ariadi.
BACA JUGA: Komplek Perkantoran Pemprov Kalsel Disiapkan Jadi Destinasi Wisata dan Pusat Ekonomi Kreatif
Salah satu kendala utama yang masih dihadapi adalah status pelabuhan di kawasan ini, yang saat ini masih belum memenuhi standar pelabuhan ekspor.
Pemprov berupaya meningkatkan status tersebut agar KI Jorong dapat langsung menjadi pusat industri dan perdagangan internasional.
Selain KI Jorong, KI Batulicin juga menjadi fokus utama, terutama dalam hilirisasi industri sawit dan karet.
Kawasan ini akan mendorong pengolahan lebih lanjut, dari Crude Palm Oil (CPO) menjadi biodiesel B50 dan oleochemical, serta pengolahan karet menjadi latex dan produk turunannya.
“Kita ingin sawit dan karet tidak hanya diekspor mentah, tetapi juga diolah lebih lanjut agar nilai tambahnya lebih tinggi bagi daerah,” ujar Ariadi.

