Harga BBM di Indonesia Lebih Mahal dari Malaysia, Ini Penjelasan Mantan Menteri ESDM

JAKARTA, KALIMANTANLIVE.COM – Isu perbandingan harga bahan bakar minyak (BBM) antara Indonesia dan Malaysia kembali mencuat, terutama setelah kasus korupsi Pertamina terungkap beberapa hari lalu. Banyak pihak mempertanyakan mengapa harga BBM di Indonesia lebih tinggi dibandingkan negara tetangga tersebut.

Mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said menegaskan bahwa membandingkan harga BBM kedua negara tidaklah tepat. Menurutnya, harga BBM sangat bergantung pada kebijakan pemerintah masing-masing.

# Baca Juga :Harga BBM Non Subsidi Turun per 1 Oktober 2024! Cek Daftar Lengkapnya di Sini

# Baca Juga :Pertamina Rilis Harga BBM Terbaru, Pertalite di Kalsel Rp10 Ribu per Liter, Berikut Daftar Langkapnya

# Baca Juga :Harga BBM Terbaru Pertamina Mulai 1 April 2024, Shell dan BP-AKR Turun

# Baca Juga :Siap-siap! Menteri ESDM Isyaratkan Naikan Harga BBM Nonsubsidi Bulan Depan

“Harga minyak itu tidak terlepas dari kebijakan pemerintah dalam menentukan harga untuk rakyatnya. Sebetulnya, jika ingin adil, kita tidak bisa langsung membandingkan, karena mungkin ada subsidi dan faktor lainnya,” ujar Sudirman, Sabtu (2/3/2025).

Lebih lanjut, Sudirman menekankan bahwa yang lebih penting daripada sekadar perbandingan harga adalah ketersediaan BBM yang terjamin di dalam negeri.

“Yang lebih krusial adalah memastikan bahwa ketersediaan BBM cukup dan tidak mengalami kelangkaan,” tambahnya.

Selain itu, ia juga menyoroti bahwa pemerintah pasti mempertimbangkan daya beli masyarakat dalam menetapkan kebijakan harga BBM. Meskipun harga BBM di Indonesia tampak lebih mahal, hal tersebut harus dilihat dalam konteks kebijakan ekonomi secara menyeluruh.

“Pada akhirnya, keputusan pemerintah terkait harga BBM didasarkan pada keseimbangan antara subsidi, daya beli masyarakat, dan ketersediaan energi,” ungkap Sudirman.

Meski demikian, ia mengakui bahwa jika dibandingkan dengan pendapatan rata-rata masyarakat, harga BBM di Indonesia memang terasa cukup tinggi bagi kelompok ekonomi bawah.