KALIMANTANLIVE.COM – Setiap amal ibadah yang dilakukan selama bulan suci ini mendatangkan berbagai keutamaan dan keberkahan. Namun, perbedaan pemahaman kerap muncul, salah satunya mengenai tidur saat berpuasa.
Sebagian kalangan meyakini bahwa tidur saat puasa termasuk ibadah. Keyakinan ini merujuk pada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi, yang menyebutkan:
“Tidurnya orang berpuasa adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, amal ibadahnya dilipatgandakan, doanya dikabulkan, dan dosanya diampuni.”
# Baca Juga :Gubernur Kalsel Apresiasi PT Amanah Group atas Konsistensi Berbagi di Ramadan
# Baca Juga :8 Strategi Ampuh Atasi Cegukan Saat Puasa Tanpa Minum: Solusi Praktis di Bulan Ramadan
# Baca Juga :Perang Sarung di Tanah Bumbu: Tradisi Ramadan Berujung Aksi Berbahaya
# Baca Juga :Temukan Makna untuk Bersama di Bulan Ramadan dengan Simpelnya, IM3 AJak Masyarakat di Kota Banjarmasin
Namun, menurut KH Fatihun Nada, Anggota Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) seperti dikutip di Inilah.com, hadis tersebut berstatus lemah (da’if) dan tidak dapat dijadikan landasan utama dalam memahami tidur sebagai ibadah.
“Hadis tersebut tidak sahih, sehingga tidak bisa dijadikan dalil utama bahwa tidur selama berpuasa pasti bernilai ibadah,” ungkap Kiai Fatihun, dikutip dari laman resmi MUI pada Sabtu (8/3/2025).
Tidur Bernilai Ibadah dan Tidak
Kiai Fatihun menegaskan bahwa tidur yang berlebihan, terutama jika dilakukan hanya untuk menghindari rasa lapar dan haus, bukanlah ibadah. Tindakan tersebut justru dianggap sebagai penyia-nyiakan waktu yang seharusnya digunakan untuk beribadah.
Sebaliknya, tidur dengan secukupnya dan niat menjaga stamina agar dapat melaksanakan ibadah lebih optimal, seperti shalat malam dan tadarus Alquran, dapat bernilai ibadah.
“Ramadan adalah bulan penuh keberkahan. Jangan sampai kita menghabiskannya dengan tidur berlebihan. Waktu sebaiknya digunakan untuk beribadah, karena pahalanya berlipat ganda dibandingkan hari biasa,” jelasnya.
Selain tidur, niat juga merupakan hal krusial dalam menjalankan ibadah puasa. Menurut Kiai Fatihun, niat harus tertanam dalam hati, meskipun tidak harus diucapkan dengan lisan.
Dalam mazhab Imam Syafi’i, niat puasa wajib diperbarui setiap malam, baik sebelum tidur maupun saat sahur. Sedangkan menurut mazhab Imam Malik, niat cukup dilakukan sekali di awal bulan Ramadan untuk satu bulan penuh.
“Agar tidak lupa, sebaiknya niat diperbarui setiap malam. Yang terpenting, niat itu ada dalam hati, bukan sekadar diucapkan,” tambahnya.









