KALIMANTANLIVE.COM – Klub voli putri legendaris asal Korea Selatan, Daejeon JungKwanJang Red Sparks, kini menghadapi ujian besar setelah kehilangan dua pemain bintangnya secara bersamaan! Megawati Hangestri Pertiwi dan Vanja Bukilic, dua sosok kunci yang membawa Red Sparks meraih puncak prestasi, memilih hengkang menuju babak baru dalam karier mereka.
Megawati Hengkang Demi Keluarga, Red Sparks Kehilangan Sosok Pemimpin
Megawati, bintang voli asal Indonesia, resmi mengakhiri kontraknya yang berlangsung selama dua musim dengan Red Sparks. Keputusannya untuk pulang ke Indonesia demi lebih dekat dengan keluarganya, khususnya ibu yang sedang sakit, menjadi kehilangan besar bagi tim yang sudah terbiasa mengandalkan performa impresifnya.
# Baca Juga :Drama 5 Set! Megawati Tampil Ganas, Tapi Red Sparks Gagal Angkat Trofi Liga Voli Korea
# Baca Juga :Megawati Cetak 40 Poin Meski Cedera, Red Sparks Comeback Epik! “Kekuatan Cinta” Jadi Senjata Rahasia?
# Baca Juga :Red Sparks di Ujung Tanduk! Megawati Harus Menang atau Angkat Koper dari Final Liga Voli Korea
# Baca Juga :Megawati Bawa Red Sparks ke Final Liga Voli Korea, Tumbangkan Hillstate 3-1 di Babak Playoff
Selama dua musim bermain di Liga Voli Korea, Megawati mencatatkan prestasi luar biasa. Pada musim reguler 2023-2024, ia meraih peringkat ke-3 dengan total 802 poin, dan menjadi yang terbaik dalam keberhasilan serangan dengan persentase 48,06%. Kehilangan Mega tentu mengurangi daya saing Red Sparks di musim depan.
Vanja Bukilic Pilih Menantang Diri di Eropa, Red Sparks Kehilangan Penyerang Utama
Tak hanya Megawati, Vanja Bukilic, yang merupakan rekan duetnya di lini serang, juga memutuskan untuk meninggalkan Red Sparks. Pemain asal Serbia ini memilih untuk mengejar impian berkarier di Eropa, dengan fokus mengembangkan kemampuannya lebih jauh di level kompetisi yang lebih tinggi.
Bukilic, yang sebelumnya tampil gemilang di Gimcheon Korea Expressway Hi-Pass, langsung mencetak 935 poin di musim debutnya di V-League dan membantu Red Sparks melaju ke final pertama mereka dalam 13 tahun. Kepergiannya menjadi tantangan besar bagi klub yang kini harus mencari pengganti sepadan.







