KALIMANTANLIVE.COM – Jagat maya Kalimantan Tengah dibuat geger setelah konten kreator asal Palangka Raya, Saif Hola, mengunggah video parodi yang menyentil gaya bicara Gubernur Kalteng, Agustiar Sabran. Tak butuh waktu lama, video berdurasi 2 menit 42 detik itu viral di media sosial dan memicu perdebatan panas di kalangan warganet.
Dalam video yang diunggah di akun Instagram pribadinya, @saif_hola, Saif dengan gaya satir menirukan gaya bicara sang gubernur saat diwawancara oleh media nasional usai pelantikannya di Istana Negara. Gaya komedi khas Saif justru dianggap sebagian pihak sebagai sindiran tajam terhadap kualitas komunikasi sang kepala daerah.
# Baca Juga :Kunker di Sampit, Gubernur Kalteng H Agustiar Sabran Dukung Perpanjangan Bandara H Asan
# Baca Juga :Pembahasan Raperda MBLB Masuki Agenda Jawaban Gubernur Kalteng Atas Pandangan Umum Fraksi
# Baca Juga :Terpilih Jadi Gubernur Kalteng, Perbaikan Jalan Palangkaraya-Gunung Mas Jadi Prioritas Willy-Habib
# Baca Juga :Wapres Gibran Rakabuming Buka Resmi MTQ VII KORPRI Nasional di Palangka Raya, Gubernur Kalteng Sugianto Bangga
Namun, hanya berselang beberapa hari dari viralnya video tersebut, Saif mengambil langkah mengejutkan. Ia menghapus video parodi itu dan menyampaikan permintaan maaf terbuka di hadapan sejumlah ormas, termasuk Lembaga Swadaya Rakyat (LSR) dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kalteng, pada Senin (21/4/2025).
Apakah Saif Hola mendapat tekanan?
Spekulasi semakin liar setelah foto-foto permintaan maaf di kantor ormas beredar luas di media sosial. Warganet, khususnya di platform Twitter, menyoroti kemungkinan adanya intimidasi terhadap kreator konten tersebut.
Namun Saif buru-buru membantah. Dalam pernyataan langsung via pesan Instagram kepada Kompas.com, ia menegaskan, “Saya tidak merasakan adanya intimidasi, tapi mungkin orang di luar yang menilainya demikian.”
Meskipun membantah adanya tekanan langsung, publik belum sepenuhnya puas. Apalagi, diketahui Saif juga dipanggil oleh Dewan Adat Dayak (DAD) Kalteng untuk membahas kontennya. Banyak yang mempertanyakan: jika memang tidak ada tekanan, mengapa permintaan maaf dilakukan begitu cepat dan terbuka?







