Warga Usung Jenazah Seberangi Sungai Deras Gara-Gara Jalan Diblokir! Pemilik Tanah Beralasan Begini

PONOROGO, KALIMANTANLIVE.COM – Sebuah insiden memilukan sekaligus mengundang amarah publik terjadi di Ponorogo, Jawa Timur. Bayangkan, demi mengantarkan jenazah ke peristirahatan terakhir, warga Desa Wates, Kecamatan Slahung, harus menempuh jalur ekstrem—menyeberangi sungai berarus deras sejauh 20 meter sambil memanggul keranda!

Peristiwa ini terjadi pada Sabtu, 19 April 2025, saat jenazah Mulyadi (38) hendak dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Guyangan, Desa Tugurejo. Namun, alih-alih berjalan di jalan yang layak, rombongan pemakaman justru dipaksa menempuh jalur berbahaya karena akses utama ditutup oleh pemilik lahan. Alasannya? Tak masuk akal!

# Baca Juga :Viral di Palu! Istri Sah Nekat Bergelantungan di Mobil Suami demi Bongkar Perselingkuhan

# Baca Juga :Video Viral Pesta Narkoba Napi, Rutan Sialang Bungkuk Disorot dan Diperiksa

# Baca Juga :VIRAL! Mencak-mencak Lalu Cekik Pramugari di Pesawat, Anggota DPRD Sumut Tuai Kecaman Publik

# Baca Juga :VIRAL! Tiga Hakim Terseret Suap Rp22,5 Miliar Kasus CPO, Langsung Ditahan Kejagung

“Katanya takut tanahnya jadi angker kalau dilewati jenazah,” beber Tri Utami, warga sekitar yang turut membantu prosesi pemakaman.

Padahal, jalan dan jembatan menuju TPU sudah tersedia. Namun, lantaran pemilik tanah bersikeras menolak akses jenazah melewati depan rumahnya, warga pun tak punya pilihan selain menerobos sungai. Tak hanya berbahaya, kejadian ini juga menguak luka lama—konon, jenazah pernah hanyut dalam kasus serupa akibat derasnya arus air.

Kepala Desa Tugurejo, Siswanto, membenarkan insiden tersebut dan menyayangkan tidak adanya solusi jangka panjang.

“Ini bukan yang pertama. Dulu juga ada kejadian lebih parah, tapi sampai sekarang belum ada penyelesaian. Warga tetap harus berjuang sendiri,” tegas Siswanto.

Video prosesi pemakaman ekstrem ini viral di media sosial dan langsung menyulut kemarahan publik. Netizen ramai-ramai mengecam tindakan egois sang pemilik tanah. Banyak yang mempertanyakan, di mana nilai kemanusiaan dan semangat gotong royong yang seharusnya menjadi ciri khas bangsa Indonesia?

Kini, peristiwa ini memicu desakan kepada pemerintah setempat untuk turun tangan. Warga berharap ada jalur khusus menuju TPU yang tidak tergantung pada izin pribadi, demi mencegah tragedi serupa terulang kembali.