KALIMANTANLIVE.COM – Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky memicu kehebohan internasional usai mengungkap fakta mengejutkan: rudal yang menghantam ibu kota Kyiv diduga buatan Korea Utara, namun berisi lebih dari seratus komponen yang diproduksi oleh perusahaan-perusahaan asal Amerika Serikat.
“Rudal yang menewaskan warga sipil di Kyiv mengandung sedikitnya 116 komponen dari berbagai negara—dan sebagian besar, sayangnya, dibuat oleh perusahaan-perusahaan Amerika,” tulis Zelensky melalui akun resminya di platform X, dikutip dari AFP, Jumat (25/4/2025).
# Baca Juga :Gencatan Senjata Paskah Gagal, Harapan Perdamaian Rusia-Ukraina Kembali Surut
# Baca Juga :Bikin Merinding! Astronot Rusia Akui Mekkah dan Madinah Jadi Kota Paling Bercahaya di Bumi
# Baca Juga :Timnas Indonesia vs Bahrain di SUGBK: Laga Krusial Kualifikasi Piala Dunia 2026
# Baca Juga :Jackson Irvine Waspadai Perkembangan Timnas Indonesia Jelang Duel Krusial
Desakan Sanksi Tambahan untuk Rusia dan Korea Utara
Zelensky dengan tegas mendesak komunitas internasional untuk menjatuhkan sanksi yang lebih berat kepada Rusia dan Korea Utara atas dugaan kolaborasi ini. Ia menyebut peran negara-negara produsen komponen rudal harus disoroti dalam upaya menghentikan perang brutal yang kini memasuki tahun ketiga.
“Dunia harus meningkatkan tekanan terhadap Moskow dan Pyongyang. Ini bukan sekadar konflik militer, tapi eskalasi yang melibatkan teknologi lintas negara,” tegasnya.
Serangan Paling Mematikan di Kyiv Tahun Ini
Serangan rudal besar-besaran yang terjadi pada Kamis dini hari (24/4) di Kyiv menjadi salah satu yang paling mematikan sejak invasi Rusia dimulai.
Sedikitnya 9 orang dilaporkan tewas dan lebih dari 60 lainnya luka-luka. Di antara para korban yang dirawat di rumah sakit, enam di antaranya adalah anak-anak.
“Rusia telah meluncurkan serangan gabungan besar-besaran di Kyiv,” kata layanan darurat Ukraina melalui Telegram, seperti dikutip kantor berita AFP.
Wartawan AFP melaporkan suara ledakan keras menggema di seluruh penjuru ibu kota saat rudal menghantam bangunan sipil. Pemerintah Ukraina sebelumnya sempat mengeluarkan peringatan serangan udara, namun tak semua warga sempat berlindung.







