KALIMANTANLIVE.COM – Fenomena unik dan penuh ironi muncul di tengah protes besar-besaran terhadap Tiongkok: kaos bertuliskan “Boycott China” yang dijual di Amerika Serikat, ternyata diproduksi… di Tiongkok! Lebih dari 100 ribu kaos dan topi dengan slogan anti-China ini diproduksi di pabrik-pabrik yang tersebar di Provinsi Guangdong dan Zhejiang, lalu diekspor ke pasar Amerika.
# Baca Juga :Harga Emas Melejit! Investor Waspada Perang Dagang AS-China, Resesi Mengintai
# Baca Juga :Timnas Indonesia Siapkan TC di Bali Menjelang Laga Melawan China dan Jepang
# Baca Juga :Jadwal Resmi Indonesia vs China: Laga Kunci Penentu Tiket Kualifikasi Piala Dunia 2026
Pemandangan ini mengundang banyak tanya: bagaimana bisa sebuah boikot yang tujuannya menentang Tiongkok, justru menguntungkan ekonomi negara yang menjadi sasaran protes tersebut?
Laba Besar di Balik Slogan Anti-China
Mengutip laporan dari South China Morning Post, pabrik-pabrik di Tiongkok mencatatkan lonjakan pesanan hingga 30-40% sejak 2019 untuk memproduksi kaos dengan slogan anti-China. Harga produksi kaos ini hanya sekitar $1,50 hingga $2 per unit, namun dijual di pasar Amerika dengan harga mencapai $10, menghasilkan margin keuntungan yang mencengangkan—hingga 400%!
Tak hanya itu, fenomena ini juga terulang pada topi ikonik “Make America Great Again” (MAGA) yang digunakan oleh kampanye Presiden Donald Trump. Banyak dari topi tersebut yang juga diproduksi di Tiongkok, meski berfungsi sebagai simbol nasionalisme Amerika.
Tanya Kembali: Apakah Boikot Itu Benar-benar Efektif?
Fenomena ini menjadi bahan refleksi besar-besaran tentang makna boikot di era globalisasi. Di satu sisi, konsumen mungkin ingin menyuarakan protes terhadap dominasi ekonomi Tiongkok, namun di sisi lain, mereka secara tidak langsung memperkuat ekonomi negara yang mereka protes.










