Perjalanan Panjang yang Tak Terlupakan
Skype pernah menjadi primadona bagi pelajar, pekerja migran, hingga pebisnis internasional. Suara orang tercinta yang dulu hanya bisa didengar lewat sambungan telepon mahal, kini bisa muncul lewat layar dengan satu klik saja—dan Skype yang memulainya.
Puncaknya terjadi pada 2011, saat Microsoft mengakuisisi Skype senilai USD 8,5 miliar (sekitar Rp 70 triliun). Saat itu, Skype memiliki lebih dari 150 juta pengguna aktif bulanan. Integrasi ke Outlook, Xbox, hingga Windows menjadikan Skype sebagai wajah resmi Microsoft dalam komunikasi daring.
Namun, zaman terus berubah. Dominasi Skype terkikis perlahan. Microsoft pun mengalihkan perhatian ke platform yang dianggap lebih relevan untuk era kerja jarak jauh dan kolaborasi digital: Microsoft Teams.
Akhir dari Sebuah Era
Penutupan Skype menandai bukan hanya berakhirnya satu aplikasi, tetapi juga sebuah era. Era ketika video call masih terasa ajaib, ketika komunikasi lintas negara menjadi lebih dekat, dan ketika nama “Skype” menjadi kata kerja: “Yuk Skype-an!”
Kini, kita hanya bisa mengenang. Terima kasih, Skype, telah menjadi jembatan yang menyambungkan dunia.
Selamat tinggal, Skype. Akhirmu adalah sejarah—dan sejarahmu akan selalu dikenang.
(kalimantanlive.com/berbagai sumber)
editor : TRI







