KASHMIR, KALIMANTANLIVE.COM – Dunia kembali dibuat was-was! Ketegangan antara dua negara bersenjata nuklir, India dan Pakistan, kembali meledak dalam aksi militer skala besar di perbatasan Kashmir. Rabu dini hari (7/5/2025), India meluncurkan serangan udara ke sembilan titik strategis di wilayah Pakistan dan Kashmir yang dikuasai Pakistan, dalam operasi militer bertajuk “Operasi Sindoor.”
Serangan ini merupakan respons terhadap serangan teroris berdarah di Pahalgam, Kashmir, pada 22 April lalu, yang menewaskan 26 wisatawan, sebagian besar warga India. India menyalahkan kelompok militan Jaish-e-Mohammed dan Lashkar-e-Taiba sebagai dalang insiden itu.
# Baca Juga :18 Tewas dan Bangunan Rata dengan Tanah Usai Ledakan Dahsyat di Pabrik Petasan Ilegal India!
# Baca Juga :Garuda Muda Mengamuk! Indonesia Hancurkan India 4-0 di Challenge Series 2025
# Baca Juga :SERU! Ini Line Up Timnas Indonesia U20 vs India di Challenge Series 2025, Siap Bangkit?
# Baca Juga :Bupati Balangan Luncurkan Dharmayatra untuk Tokoh Agama Budha ke Nepal dan India
Jet-jet Tempur Bertumbangan di Langit Perbatasan
Ketegangan langsung memuncak. Pakistan mengklaim berhasil menjatuhkan lima jet tempur India, termasuk tiga Rafale, satu MiG-29, dan satu SU-30. Aksi tembak-menembak udara ini menjadi salah satu yang paling intens sejak konflik besar pada 2019 lalu.
India menyatakan bahwa target serangan adalah kamp pelatihan militan dan pusat komunikasi kelompok bersenjata. Namun Pakistan menuduh serangan tersebut menghantam wilayah sipil, bahkan merusak dua masjid di Bahawalpur dan Muzaffarabad, yang menyebabkan delapan korban jiwa termasuk satu anak-anak, serta 35 orang luka-luka.
Pakistan Balas Serangan, Korban Sipil Bertambah
Sebagai aksi balasan, militer Pakistan melepaskan tembakan artileri ke wilayah Kashmir yang dikuasai India. Serangan ini mengakibatkan tiga warga sipil India tewas, memperburuk situasi di lapangan.
Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, dengan nada tinggi menyebut serangan India sebagai “tindakan perang” dan mengancam akan memberikan respons militer yang sepadan.










