Sidang Peristiwa Tugboad di PN Muara Teweh Dalam Sorotan, Muncul Nama Diduga Oknum Polisi

Peristiwa tugboad ini sekarang mendapat sorotan kembali kendati sempat terlupakan. Para terdakwa yang sejak dari perahu kelotoknya hingga naik ke kapal tugboad hanya dengan tangan kosong mengundang tanda tanya.

Hal ini bagi beberapa pemerhati yang mengamati kasus ini secara detail, menunjukan justru orang-orang tadi tidak ingin ada yang terluka atau ada yang merasa ketakutan karena terancam dengan kehadiran mereka.

Karakteristik para terdakwa pun covernya jauh dari kesan preman, mereka terlihat polos dan beberapanya sudah berusia tua layaknya kakek sehari-hari saja.

Bahkan menurut pengamat yang secara jeli mengamati vidio tersebut, terlihat jelas yang kondisinya di bawah tekanan oleh keadaan saat itu justru adalah mereka yang dari kelotok.

Mereka pun bagi awak kapal itu terlihat tidak menakutkan. Tidak ada suasana kecemasan awak kapal atau waspada tinggi akan diserang “orang-orang berbahaya” itu. Justru mereka yang tampak bersemangat untuk menyerang.

Awak kapal justru langsung menunjukan superiornya di atas kapal kepada mereka, kata salah seorang aktivis daerah yang mengamati kasus ini namun sementara ini enggan dimuat namanya diberita.

Satu orang membawa sajam saja berani menghadapi mereka tanpa khawatir kemungkinan orang-orang yang dianggap “preman berbahaya” itu nekat balik melawan dan menyergapnya tiba-tiba. Keberanian itu menunjukan ia yakin “preman” yang jumlahnya banyak itu bukan ancaman baginya dan dapat dikuasainya.

Ucapan orang di kapal Perusahaan itu, “jangan lari kau, mau kemana?”. Jelas ini menunjukan keinginan mengeksekusi saat itu dari siapa. Ia justru tidak ingin “preman yang dalam dakwaan disebut mengancam” keselamatannya itu menyingkir dari kapalnya, terang dia.

Ia justru ingin mereka berada di kapal tugboad itu saja (tidak lari), yang artinya kehadiran orang-orang dari kelotok tadi bukan suatu ancaman baginya, melainkan sasaran empuk, kata pengamat tadi.